Benteng Alami Penahan Tsunami Jawa Rusak Akibat Penambangan Pasir

Di sepanjang pesisir selatan Jawa, dari Kebumen hingga Purworejo, terbentang benteng alami yang terbentuk ribuan tahun lalu. Punggungan pasir yang menjulang di balik garis pantai itu bukan sekadar tumpukan pasir biasa, melainkan dinding pelindung yang diciptakan alam untuk menahan terjangan tsunami.
Di sepanjang pesisir selatan Jawa, dari Kebumen hingga Purworejo, terbentang benteng alami yang terbentuk ribuan tahun lalu. Punggungan pasir yang menjulang di balik garis pantai itu bukan sekadar tumpukan pasir biasa, melainkan dinding pelindung yang diciptakan alam untuk menahan terjangan tsunami. (BRIN)

JOSS.CO.ID – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyampaikan peringatan serius terkait kerusakan benteng alami penahan tsunami yang membentang di pesisir selatan Jawa. Struktur geologi berupa punggungan pasir berusia ribuan tahun yang berfungsi sebagai perlindungan utama dari terjangan tsunami itu kini semakin terkikis akibat maraknya aktivitas penambangan pasir.

Peringatan tersebut disampaikan Periset Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Eko Yulianto. Ia menegaskan bahwa kerusakan struktur alam ini bukan semata isu lingkungan, tetapi menyangkut keselamatan jutaan warga yang tinggal di sepanjang pesisir selatan Jawa.

“Benteng alam ini terbentuk lewat proses geologi ribuan tahun. Jika rusak, kita kehilangan perlindungan paling dasar dari tsunami,” kata Eko dikutip dari laman resmi BRIN, Minggu (30/11/2025).

Struktur Geologi Ribuan Tahun Terancam Hilang

Hasil riset BRIN yang didanai melalui program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) BRIN 2025 mengungkap bahwa punggungan pasir di wilayah Kebumen–Purworejo hingga Cilacap terbentuk sekitar 6.000 tahun lalu, ketika permukaan laut lebih tinggi 3–5 meter dibandingkan kondisi saat ini. Secara ilmiah, formasi tersebut dikenal sebagai Teras Laut Holosen Maksimum (TLHM).

Struktur benteng alam itu memiliki panjang sekitar 40 kilometer dengan ketinggian 6–13 meter. Lokasinya hanya berjarak 400–500 meter dari garis pantai di Kebumen–Purworejo, namun semakin menjauh hingga 8 kilometer di kawasan Cilacap.

Perbedaan ketinggian dan jarak terhadap laut menyebabkan tingkat kerawanan tsunami berbeda di setiap daerah. Permukiman di Kebumen dan Purworejo yang berada pada punggungan lebih dari sembilan meter di atas permukaan laut dinilai relatif lebih aman dari tsunami berskala menengah.

“Sebaliknya, kawasan Cilacap yang hanya berada di ketinggian nol hingga empat meter lebih rentan karena berada langsung di dataran pantai modern” jelas Eko.

 Di sepanjang pesisir selatan Jawa, dari Kebumen hingga Purworejo, terbentang benteng alami yang terbentuk ribuan tahun lalu. Punggungan pasir yang menjulang di balik garis pantai itu bukan sekadar tumpukan pasir biasa, melainkan dinding pelindung yang diciptakan alam untuk menahan terjangan tsunami.

Ancaman Megathrust dan Pentingnya Punggungan Pasir

BRIN juga menyoroti potensi gempa besar di zona megathrust selatan Jawa–Nusa Tenggara yang dapat mencapai magnitudo 9,6 dengan siklus sekitar 675 tahun. Gempa berskala besar tersebut berpotensi memicu tsunami yang mampu menjangkau beberapa kilometer ke daratan.

Dalam skenario tsunami besar, punggungan pasir berfungsi sebagai penghalang awal yang memperlambat dan mengurangi energi gelombang sebelum mencapai kawasan pemukiman.

“Benteng alami ini sangat penting untuk menahan kekuatan tsunami sebelum mencapai kawasan penduduk,” kata Eko.

Penambangan Pasir Jadi Ancaman Utama

Meski memiliki peran vital, struktur punggungan pasir kini mengalami kerusakan akibat penambangan yang tidak terkendali. Eko menyebut kondisi ini sebagai ironi besar, mengingat negara lain harus mengeluarkan biaya sangat besar untuk membangun pelindung buatan.

Sebagai contoh, Jepang membangun tanggul laut setinggi 12–15 meter sepanjang hampir 400 km pascatsunami 2011 dengan biaya mencapai Rp 138 triliun. Jika Indonesia harus membuat struktur serupa, diperlukan sedikitnya Rp 14 triliun—setara 14 kali lipat anggaran BNPB 2025.

“Menghancurkan punggungan pasir sama saja dengan melepas pelindung terakhir masyarakat. Ini bukan hanya soal geologi, tapi soal kemanusiaan,” tegas Eko.

Peringatan Terakhir untuk Keselamatan Generasi Mendatang

BRIN menekankan bahwa benteng pasir alami tersebut merupakan anugerah alam yang tidak ternilai. Struktur yang terbentuk selama ribuan tahun dapat hilang hanya dalam beberapa dekade jika eksploitasi pasir terus dibiarkan.

“Menyelamatkan benteng alam tsunami bukan hanya soal menjaga lingkungan. Ini soal memastikan masa depan anak cucu kita tetap terjaga,” tutup Eko.

Baca Juga: Deforestasi Jadi Ancaman Serius, Dampaknya Mengancam Ekosistem Hutan dan Kehidupan Manusia

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*