
JOSS.CO.ID, SOLO —Wacana penerapan enam hari sekolah dalam sepekan memunculkan penolakan dari sejumlah siswa SMA dan SMK di Kota Solo. Mereka menilai kebijakan tersebut berpotensi menambah beban serta mengurangi waktu istirahat yang selama ini sudah terbatas.
Dilansir dari Espos, Rabu (19/11/2025), beberapa siswa mengungkapkan bahwa sistem lima hari sekolah yang berlaku saat ini sudah cukup padat. Penambahan satu hari sekolah dikhawatirkan membuat mereka semakin lelah, baik secara fisik maupun mental.
Para siswa berharap pemerintah mempertimbangkan kembali dampak kebijakan tersebut dengan melibatkan suara pelajar sebelum keputusan final diumumkan. Salah satu siswi SMA Negeri 5 Solo, Nurina Arfiany, menyampaikan bahwa wacana enam hari sekolah membuatnya harus menyesuaikan berbagai kegiatan terutama di akhir pekan.
“Sekarang saja pulang sering jam empat atau lima sore, kadang masih ada tugas atau kegiatan sekolah. Kalau jadi enam hari, kapan kami istirahat? Selain itu, akhir pekan biasanya ada kegiatan klub basket di luar sekolah, jadwalnya harus disesuaikan lagi,” ujarnya.
Hal senada diungkapkan Ardian Patola, siswa SMK Negeri 8 Solo. Ia mengatakan kegiatan praktik di sekolahnya sering berlangsung hingga sore hari, sehingga hari Sabtu penting digunakan untuk memulihkan tenaga atau membantu orang tua.
“Teman-teman banyak yang kerja sambilan atau bantu usaha keluarga di akhir pekan. Kalau Sabtu masuk, kami kehilangan satu-satunya hari untuk itu. Akan sangat melelahkan, apalagi tugas-tugasnya masih banyak,” ucapnya.
Kekhawatiran Berkurangnya Waktu Ekstrakurikuler
Selain itu, Ardi juga menyoroti potensi berkurangnya waktu organisasi dan kegiatan nonakademik. Menurutnya, enam hari sekolah dapat mengurangi ruang kreativitas yang biasanya dilakukan pada akhir pekan.
“Ekstrakurikuler sudah padat. Kalau Sabtu masuk, kegiatan ekskul bisa makin malam atau malah dipangkas. Padahal ekskul itu penting buat pengembangan diri,” kata dia.
Disdikbud Jateng Bahas Penerapan pada Semester Genap 2025/2026
Wacana sekolah enam hari dalam sepekan digulirkan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah dengan rencana penerapan pada semester genap tahun ajaran 2025/2026. Saat ini, kebijakan tersebut tengah dibahas dalam Forum Group Discussion (FGD).
Disdikbud Jateng beralasan bahwa penerapan enam hari sekolah seperti masa sebelum 2017 diperlukan untuk mengurangi beban belajar siswa. Dengan sistem saat ini, siswa belajar hampir 10 jam per hari sehingga dianggap terlalu berat.
Selain FGD, Disdikbud juga merencanakan penataan ulang penempatan guru dan kepala sekolah berdasarkan domisili sebagai bagian dari persiapan kebijakan tersebut.

Leave a Reply