Indonesia–Tiongkok Perkuat Kerja Sama Lewat Skema Two Countries Twin Parks, 16 MoU Bernilai Rp36,4 Triliun Diteken
JOSS.CO.ID – Indonesia dan Tiongkok terus memperkuat posisi sebagai partner strategis, terutama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan perluasan kerja sama investasi. Salah satu inisiatif utama yang digencarkan kedua negara adalah skema Two Countries Twin Parks (TCTP), model kolaborasi pembangunan kawasan industri kembar yang dirancang untuk memperlancar aliran investasi, membuka lapangan kerja, serta memperkuat struktur ekonomi nasional.
Inisiatif ini kembali ditegaskan dalam gelaran China–Indonesia Economic and Trade Exchange & Matchmaking Conference TCTP yang berlangsung pada 26 November 2025. Dalam kesempatan tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa TCTP bertujuan mengembangkan dua kawasan industri yang saling terkoneksi untuk menyelaraskan rantai pasok Indonesia–Tiongkok.
Menurut Airlangga, integrasi ini memungkinkan penggabungan keunggulan Indonesia—mulai dari sumber daya alam, tenaga kerja, hingga pasar domestik—dengan kekuatan Tiongkok dalam teknologi, pembiayaan, dan pengalaman manufaktur. Sinergi tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Kawasan Industri Batang menjadi proyek percontohan TCTP dan kini mulai dilirik untuk pengembangan di wilayah lain, termasuk Bintan. Skema ini juga diproyeksikan menjadi magnet investasi Tiongkok di berbagai sektor prioritas nasional.
Pada acara yang sama, Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Kota Fuzhou menandatangani 16 Memorandum of Understanding (MoU) senilai total Rp36,4 triliun. Penandatanganan dilakukan oleh pelaku usaha kedua negara dan disaksikan langsung oleh Menko Airlangga. Seluruh proyek akan mulai dijalankan pada 2026 dan mencakup sektor strategis seperti ekspor baja dan nikel, pengolahan pangan dan kelautan, industri perikanan terpadu, energi surya, penyimpanan energi, batu bara dan bahan baku industri, riset AI Indonesia–Tiongkok, teknologi baru, hingga pengembangan kawasan industri dan rantai pasok energi masa depan.
Penguatan kerja sama ini sejalan dengan visi ekonomi jangka panjang Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, yang menargetkan pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029. Dengan populasi gabungan sekitar 1,7 miliar jiwa dan nilai ekonomi mencapai USD19,2 triliun, kemitraan Indonesia–Tiongkok dinilai memiliki potensi signifikan sebagai kekuatan pasar dan produksi global. Pada 2024, nilai perdagangan bilateral kedua negara tercatat sekitar USD135 miliar.
Dalam penyampaiannya, Airlangga kembali menekankan nilai strategis TCTP. “Two Countries Twin Parks merupakan inisiatif strategis dua negara strategis, Indonesia dan China. Tujuannya adalah membangun dua kompleks industri di antara kota kembar, di antara kedua negara, agar sinergi kedua industri dan rantai nilai kedua negara dapat optimal,” ujarnya dalam closing statement di acara “The City of Blessings” China–Indonesia Economic and Trade Exchange dan Matchmaking Conference Two Countries Twin Parks.
Nilai investasi Rp36,4 triliun tersebut setara dengan 24,3% dari total komitmen investasi US$10 miliar yang pernah disampaikan Pemerintah Kota Fuzhou saat menerima kunjungan Kemenko Perekonomian pada Agustus 2025.
Menko Airlangga menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak proyek di sektor-sektor potensial. “Kita membutuhkan lebih banyak proyek di sektor industri baja, manufaktur, perikanan, tekstil, pertanian, seperti teh, furnitur, teknologi baru seperti drone, baterai EP, termasuk infrastruktur dan AI itu sendiri. Sektor seperti ini prospektif bagi Indonesia, dan Pemerintah Indonesia berharap dengan penandatanganan nota kesepahaman hari ini, kolaborasi antara Tiongkok dan Indonesia semakin erat,” pungkasnya.
Usai menutup kegiatan, Airlangga juga mengadakan pertemuan bilateral dengan Executive Vice Governor of Fujian Provincial People’s Government Guo Ningning. Pertemuan tersebut membahas sejumlah agenda penting, mulai dari peningkatan kualitas kawasan industri, urgensi investasi pencipta lapangan kerja, penguatan sektor perikanan, peluang penambahan rute penerbangan untuk mendukung pariwisata, hingga kerja sama pendidikan.
Acara tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dari Indonesia dan Tiongkok, termasuk Deputy Secretary of CPC Fuzhou Municipal Committee Luo Qiuyun, Mayor of People’s Government of Fuqing City Fan Xueshuang, Director of Fuzhou Municipal Bureau of Commerce Liang Yong, Director of the Foreign Affair Office of the Fuzhou Municipal People Government Ye Xiaolan, serta Deputi Bidang Koordinasi Perniagaan dan Ekonomi Digital Ali Murtopo Simbolon.

Leave a Reply