Harga Emas Dunia Tembus US$ 3.969,4 per Troy Ons

Harga Emas Dunia Tembus US$ 3.969,4 per Troy Ons
Harga Emas di Pasar Spot (Sumber Bloomberg)

JOSS.CO.ID – Harga emas dunia kembali rekor tertinggi sepanjang masa pada perdagangan Senin (6/10/2025). Berdasarkan data Bloomberg, harga emas di pasar spot ditutup di level US$ 3.969,4 per troy ons, naik 2,13% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Kenaikan tersebut memperpanjang tren penguatan emas dalam beberapa pekan terakhir. Dalam sepekan terakhir, harga emas tercatat naik 3,59%, sementara dalam sebulan terakhir melonjak 9,22%. Secara year-to-date, harga emas sudah meningkat 51,31%, menjadi kenaikan tahunan terbesar sejak 1979.

Faktor Pendorong: Shutdown Pemerintah AS dan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga

Lonjakan harga emas dunia dipicu oleh penutupan sementara (shutdown) pemerintahan Amerika Serikat (AS). Shutdown tersebut menyebabkan tertundanya publikasi data penting, termasuk laporan ketenagakerjaan yang seharusnya dirilis akhir pekan lalu.

Kondisi ini membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dan memilih emas sebagai aset lindung nilai (safe haven). Sejumlah indikator alternatif seperti data ADP dan laporan dari Challenger, Gray & Christmas Inc. menunjukkan pasar tenaga kerja AS mulai melemah.

Penurunan jumlah lapangan kerja baru dan rendahnya pembukaan lowongan menandakan tekanan di pasar tenaga kerja. Situasi tersebut meningkatkan kemungkinan Federal Reserve (The Fed) akan menurunkan suku bunga acuannya.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang penurunan Federal Funds Rate sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75–4% pada pertemuan The Fed bulan ini mencapai 94,1%.

“Kondisinya masih kuat bahwa The Fed berada di jalur penurunan suku bunga lebih jauh seiring pelemahan pasar tenaga kerja. Ini menjadikan fase reli harga emas lebih panjang,”
ujar Ahmad Assiri, Analis Pepperstone Group Ltd, dikutip dari Bloomberg News.

Emas Jadi Pilihan Investor di Tengah Ketidakpastian Global

Emas dikenal sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset). Saat suku bunga turun, biaya peluang untuk memegang emas juga menurun, sehingga logam mulia ini menjadi lebih menarik bagi investor.

Selain faktor moneter, meningkatnya permintaan dari bank sentral global, investor institusional, serta kekhawatiran terhadap ketegangan geopolitik turut menopang kenaikan harga emas. Banyak bank sentral melakukan diversifikasi cadangan devisa dengan memperbesar porsi emas untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Menurut sejumlah analis pasar, tren pembelian emas oleh bank sentral ini menjadi faktor jangka panjang yang mendukung reli harga emas menuju level psikologis US$ 4.000 per troy ons.

Analisis Teknikal: Emas Masih di Zona Bullish, Tapi Waspadai Overbought

Secara teknikal, pergerakan emas masih menunjukkan tren bullish kuat pada grafik harian (daily time frame). Indeks kekuatan relatif atau Relative Strength Index (RSI) berada di level 85, jauh di atas batas 50 yang menandakan momentum positif.

Namun, RSI di atas 70 juga memberikan sinyal overbought atau kondisi jenuh beli. Sementara indikator Stochastic RSI sudah menyentuh angka 100, yang berarti pasar sudah sangat jenuh.

Dari sisi teknikal, pivot point berada di US$ 3.905 per troy ons. Support terdekat berada di US$ 3.898 (Moving Average 5) dan US$ 3.846 (Moving Average 10). Adapun level resisten berada di US$ 3.978, dan jika tertembus, harga emas berpotensi menguji US$ 3.991–4.083 per troy ons.

Dengan kondisi ini, harga emas berisiko terkoreksi dalam jangka pendek akibat aksi ambil untung (profit taking). Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, tren kenaikan diperkirakan masih berlanjut.

Harga Emas Naik 51% Tahun Ini, Masih Layak Dibeli?

Kenaikan harga emas lebih dari 51% sepanjang 2025 membuat banyak investor bertanya-tanya: apakah saat ini masih waktu yang tepat untuk membeli emas, atau justru menjualnya?

Menurut analis pasar, investor jangka pendek sebaiknya berhati-hati karena potensi koreksi teknikal cukup besar. Namun bagi investor jangka panjang, prospek emas masih menarik, terutama jika The Fed benar-benar menurunkan suku bunga.

Emas tetap dianggap sebagai instrumen lindung nilai efektif terhadap inflasi dan ketidakpastian ekonomi. Dengan potensi suku bunga global yang lebih rendah, harga emas masih berpeluang mencetak rekor baru.

Harga emas dunia menembus US$ 3.969,4 per troy ons, menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah. Lonjakan dipicu oleh shutdown pemerintah AS, pelemahan pasar tenaga kerja, dan ekspektasi penurunan suku bunga.

Secara teknikal, emas masih bullish, namun potensi koreksi jangka pendek perlu diwaspadai. Secara fundamental, tren jangka panjang masih positif seiring meningkatnya permintaan global dan kebijakan moneter yang lebih longgar.

Baca Juga: Tak Disangka! Mayoritas Emas di Indonesia Justru Impor dari Singapura, Ini Alasannya

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*