Sikap Realistis Prabowo di PBB Soal Palestina-Israel, Babak Baru Diplomasi Indonesia?

Pernyataan Prabowo di PBB dan Implikasi Baru Diplomasi Indonesia dalam Konflik Palestina-Israel

JOSS.CO.iD – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan pernyataan yang cukup berbeda dari kebijakan luar negeri Indonesia selama ini. Dalam forum Sidang Umum PBB di New York, Amerika Serikat, pekan lalu, Prabowo menegaskan bahwa perdamaian di Palestina hanya mungkin terwujud jika keamanan Israel juga dijamin.

Pernyataan tersebut menimbulkan diskusi luas, baik di dalam negeri maupun komunitas internasional. Selama puluhan tahun, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara paling vokal mendukung kemerdekaan Palestina. Namun, kali ini Prabowo menambahkan penekanan pada jaminan keamanan Israel sebagai syarat terciptanya perdamaian.

Dalam keterangan persnya di New York, Rabu (24/9/2025), Prabowo menilai sikap Indonesia dianggap lebih realistis dan seimbang di mata dunia.

“Banyak sekali yang positif karena kita dianggap realistis, kita dianggap seimbang,” katanya.

Sikap tersebut sejalan dengan pandangan bahwa konflik Israel-Palestina tidak bisa selesai hanya dengan memberikan pengakuan terhadap kemerdekaan Palestina. Jaminan keamanan Israel menjadi faktor kunci agar kedua pihak bisa hidup berdampingan tanpa rasa takut.

Meski menekankan keamanan Israel, Prabowo tetap menegaskan komitmen Indonesia pada solusi dua negara. “Kita harus memiliki Palestina yang merdeka, tetapi kita juga harus mengakui, menghormati, dan menjamin keselamatan serta keamanan Israel. Hanya dengan begitu kita bisa memiliki perdamaian sejati,” ujarnya.

Artinya, Prabowo berusaha menempatkan posisi Indonesia sebagai pihak yang tidak hanya membela Palestina, tetapi juga mendorong penyelesaian konflik yang berimbang.

Beberapa pengamat hubungan internasional menilai pernyataan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk memainkan peran baru sebagai mediator netral dalam konflik Palestina-Israel.

“Selama ini Indonesia identik dengan dukungan sepihak kepada Palestina. Dengan penekanan pada jaminan keamanan Israel, Indonesia bisa dipandang lebih netral, dan itu penting untuk peran diplomasi di kawasan,” kata pengamat politik Timur Tengah dari Universitas Indonesia.

Di sisi lain, langkah ini juga berisiko memunculkan kritik dari kelompok pro-Palestina yang menilai sikap tersebut bisa melemahkan posisi perjuangan rakyat Palestina.

Dalam pidatonya di PBB, Prabowo menyinggung krisis kemanusiaan di Gaza yang semakin memburuk. Ia mengingatkan dunia agar tidak berpaling dari penderitaan jutaan warga sipil yang mengalami trauma, kelaparan, hingga ancaman kematian.

Pernyataan ini menegaskan bahwa Indonesia tetap konsisten menyoroti sisi kemanusiaan dalam konflik tersebut.

Sejak era Soekarno, Indonesia konsisten bersuara lantang membela Palestina. Pernyataan Prabowo menambahkan dimensi baru: pengakuan bahwa keamanan Israel juga penting bagi terciptanya perdamaian jangka panjang.

Bagi sebagian pihak, langkah ini bisa dianggap sebagai diplomasi “bebas aktif” yang sesungguhnya: berpihak pada keadilan, bukan sekadar solidaritas ideologis. Namun, bagi pihak lain, hal ini bisa dilihat sebagai perubahan sikap yang berpotensi memicu kontroversi di dalam negeri.

Baca Juga: Prabowo Perintahkan Percepatan Penetapan Tanah Telantar Jadi 90 Hari, Pemerintah Klaim Demi Rakyat

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*