
JOSS.CO.iD, SEMARANG – Lonjakan harga daging ayam di Jawa Tengah (Jateng) kembali menjadi sorotan. Dilansir dari jateng.idntimes, Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) memastikan kenaikan harga daging ayam yang sempat menembus angka Rp40 ribuan per kilogram lantaran disebabkan ada pola konsumsi masyarakat yang tinggi untuk pelaksanaan makan bergizi gratis (MBG).
Fenomena ini berdampak pada peternak dan konsumen, terutama di pasar tradisional, yang kini harus menyesuaikan harga beli dengan lonjakan permintaan.
Ketua Bidang Pemantau Harga Pinsar Pusat, Samhadi, menyampaikan bahwa sejak Juli hingga Agustus 2025, serapan daging ayam untuk program MBG meningkat pesat.
“Kita tahu ada sekitar 2.000 SPPG di bulan Juni. Dan sekarang per hari ini sudah ada 8.000 dapur SPPG. Serapannya lumayan tinggi. Kebutuhan per minggu setengah ton. Faktor dominan itu dari MBG. Jadi, dari sisi permintaan emang ada perubahan kencang utamanya di serapan MBG, di dapur dapur MBG,” tutur Samhadi.
Kenaikan serapan ini membuat tekanan pada harga ayam pedaging di tingkat peternak meningkat, karena setiap dapur SPPG membutuhkan pasokan hingga setengah ton per minggu.
Selain serapan MBG, kenaikan harga juga dipengaruhi oleh faktor sosial budaya. Bulan Sapar yang bertepatan dengan jelang berakhirnya Maulid Nabi Muhammad SAW mendorong permintaan rumah tangga meningkat karena adanya hajatan.
“Sisi lain akan berakhirnya bulan Sapar di daerah Jabar cenderungnya permintaan (daging ayam) juga tinggi. Pas itu berbarengan sama dorongan permintaan rumah tangga, karena lumrahnya saat Maulid emang banyak hajatan. Jadi (permintaan) kenceng banget,” kata Samhadi.
Produksi ayam pedaging hidup di Indonesia sendiri mencapai 65 juta ton per minggu, tetapi peningkatan permintaan mendadak ini membuat harga di pasar tradisional ikut terdongkrak.
Meskipun harga saat ini tinggi, Pinsar memperkirakan harga akan kembali normal setelah Maulid Nabi. Samhadi menambahkan bahwa sejak beberapa tahun terakhir, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementerian Pertanian telah memberlakukan harga eceran tertinggi (HET) ayam pedaging hidup sebesar Rp18 ribu per ekor untuk menstabilkan pasar.
“Pasti nanti harganya terkoreksi. Terus minggu minggu ke depan juga koreksi harga lagi. Di Jateng harganya pasti jadi Rp20 ribu di Jabodetabek jadi Rp21 ribu. Itu patokan harga di kandang atau di peternak,” jelasnya.
Saat ini, harga ayam pedaging hidup di tingkat peternak berkisar Rp23 ribu per ekor di Jawa Tengah dan Rp22 ribu di Jabodetabek.
Peternak menghadapi sejumlah kendala selama lonjakan harga, termasuk keterlambatan respons dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) terkait keluhan produksi dan distribusi.
“Saya pikir kerja pemerintah, Bapanas sangat lambat. Persoalan pakan jagung saja tidak segera diatasi. Sekarang itu ada faktor produksi briding ayam yang jalannya tidak optimal, produksinya di titik rendah. Sisi lain kalau peternak (ayam) sudah siap panen tapi tidak ada membeli maka mereka muncul kepanikan. Ini perlu diatasi,” kata Samhadi.
Kondisi ini menimbulkan tekanan pada peternak karena stok ayam siap panen belum terserap pasar, sehingga risiko kerugian meningkat.

Leave a Reply