Kasus keracunan makanan meningkat di Indonesia. Dokter gizi beri tips simpan meal prep yang aman agar tidak menimbulkan bahaya kesehatan.
JOSS.CO.ID – Kasus keracunan makanan di Indonesia dilaporkan meningkat dalam dua tahun terakhir. Data Kementerian Kesehatan mencatat hingga 16 Oktober 2023, terdapat 4.792 kasus keracunan pangan, naik lebih dari seribu kasus dibanding tahun 2022.
Lonjakan serupa terjadi pada 2025 melalui program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Sejak peluncurannya pada Januari, berbagai laporan keracunan massal muncul di sekolah-sekolah. Hingga September 2025, jumlah korban tercatat mencapai lebih dari 6.400 siswa di 17 provinsi.
Menurut Badan Gizi Nasional (BGN), sebagian besar kasus dipicu oleh kontaminasi bahan mentah dan penyimpanan makanan yang tidak sesuai standar.
Pakar gizi mengingatkan agar masyarakat lebih berhati-hati, termasuk dalam tren menyiapkan makanan dalam jumlah banyak atau meal prep.
“Meal prep itu boleh-boleh saja, asalkan cara penyimpanannya dilakukan dengan benar,” kata dr. Consistania Ribuan, Sp.GK, AIFO-K, FINEM, dokter spesialis gizi lulusan Universitas Indonesia, dalam sebuah gelar wicara di Jakarta, dikutip dari Antara.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Menurut Consistania, kesalahan paling umum adalah mencairkan bahan makanan beku dalam jumlah besar, lalu menyimpan kembali sisanya ke freezer.
“Kalau kita sudah mencairkan satu tray berisi beberapa porsi, lalu hanya mengambil satu porsi untuk dimasak hari ini, kemudian membekukan sisanya kembali, itu yang tidak boleh,” tegasnya.
Proses beku-cair berulang membuat kualitas gizi menurun dan mempercepat pertumbuhan bakteri berbahaya seperti Salmonella, E. coli, dan Listeria.
Kasus Keracunan Terus Terjadi
Menurut laporan Badan POM dan Kemenkes, beberapa faktor utama penyebab meningkatnya kasus keracunan makanan antara lain:
- Kontaminasi bahan mentah yang tidak higienis.
- Distribusi dan penyimpanan makanan pada suhu yang tidak sesuai standar.
- Kurangnya pelatihan pengelola dapur dalam program berskala besar seperti MBG.
- Kurangnya pengawasan rutin terhadap dapur dan penyedia jasa katering.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai kasus keracunan makanan massal ini memerlukan penanganan sistematis, termasuk evaluasi rantai distribusi hingga standar penyajian makanan.
Cara Menyimpan Makanan dengan Aman
Agar meal prep tetap sehat dan tidak menimbulkan risiko keracunan, dr. Consistania memberikan sejumlah tips:
- Pisahkan porsi sejak awal. Simpan makanan dalam porsi sekali masak agar tidak perlu membekukan ulang.
- Gunakan wadah kedap udara. Mencegah kontaminasi silang dari makanan lain di freezer atau kulkas.
- Beri label dan tanggal. Makanan beku punya masa simpan terbatas: daging 1–3 bulan, sayur 8–12 bulan.
- Lelehkan dengan benar. Thawing sebaiknya dilakukan di kulkas, bukan suhu ruang.
- Hindari pemanasan berulang. Panaskan hanya sekali untuk menjaga kualitas dan keamanan.
Dampaknya
Keracunan makanan berdampak serius bagi kesehatan. Gejala umum yang muncul adalah:
- Mual dan muntah.
- Diare.
- Sakit perut.
- Demam.
- Dehidrasi.
Pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan sistem imun lemah, keracunan bisa menyebabkan komplikasi bahkan kematian.
Menurut World Health Organization (WHO), setiap tahun ada 600 juta orang di dunia yang terkena penyakit akibat makanan terkontaminasi, dan 420 ribu di antaranya meninggal dunia.
Respons Pemerintah
Pemerintah melalui BGN dan BPOM telah mengambil beberapa langkah:
- Melakukan audit dapur penyedia MBG di berbagai daerah.
- Menerbitkan standar keamanan pangan yang lebih ketat.
- Memberikan pelatihan tambahan kepada pengelola dapur sekolah.
- Membuka jalur pelaporan cepat untuk setiap kasus keracunan massal.
Meski begitu, lembaga independen seperti CISDI dan JPPI menilai evaluasi lebih serius masih diperlukan, terutama dalam pengawasan distribusi dan transparansi pelaporan.
Lonjakan kasus keracunan makanan di Indonesia menunjukkan pentingnya kesadaran akan keamanan pangan. Baik dalam program pemerintah maupun praktik sehari-hari seperti meal prep, penyimpanan makanan yang benar adalah kunci untuk mencegah risiko kesehatan.
Masyarakat diimbau lebih disiplin memisahkan porsi, menggunakan wadah kedap udara, menjaga suhu penyimpanan, dan menghindari pemanasan berulang. Tanpa langkah ini, makanan yang dimaksudkan untuk kesehatan justru bisa menjadi sumber penyakit.

Leave a Reply