
JOSS.CO.ID, Kathmandu – Ribuan anak muda Nepal dari kalangan Gen Z menggelar diskusi maraton selama lima jam di platform Discord untuk menentukan calon perdana menteri (PM) interim usai pengunduran diri mendadak K.P. Sharma Oli. Dari hasil pemungutan suara, mantan Ketua Mahkamah Agung Nepal, Sushila Karki, meraih 3.833 suara dan keluar sebagai pilihan mayoritas.
Diskusi daring itu tidak hanya berlangsung panas di ruang chat, tetapi juga disiarkan langsung lewat YouTube dengan lebih dari 10 ribu penonton aktif. Aksi ini menjadi simbol bahwa suara generasi muda Nepal kini mengambil alih peran politik di tengah krisis.
Gen Z Ambil Alih Politik Lewat Discord
Fenomena ini bermula ketika pemerintah Nepal memberlakukan larangan terhadap 26 platform media sosial, termasuk Facebook dan YouTube, serta mengusir Meta dari negaranya. Sebagai respons, komunitas sipil Hami Nepal meluncurkan server Discord yang dalam empat hari langsung dihuni lebih dari 145 ribu anggota, mayoritas anak muda.
“Parlemen Nepal saat ini ya Discord,” kata Sid Ghimiri, konten kreator berusia 23 tahun di Kathmandu. Ia menyebut televisi nasional bahkan menyiarkan cuplikan perdebatan dari server tersebut, sementara media online lokal melakukan siaran langsung sesi diskusi.
Penolakan Terhadap Aktivis Konservatif
Dalam diskusi, para peserta menegaskan tidak akan duduk semeja dengan aktivis konservatif Durga Prasai. Mereka menilai perjuangan ini murni demi menjaga demokrasi Nepal agar tetap hidup, bukan untuk kembali ke politik lama yang penuh kepentingan kelompok tertentu.
Voting Online: Sushila Karki Unggul
Moderator Discord menjelaskan, voting dilakukan untuk mensimulasikan pemilu mini sebagai usulan calon PM interim yang nantinya bisa mengawasi jalannya pemilu nasional. Selain Sushila Karki, nama-nama seperti influencer Rastra Bimochan Timilsina, politisi muda Sagar Dhakal, Wali Kota Dharan Harka Sampang, hingga wirausahawan sosial Mahabir Pun sempat masuk nominasi PM Nepal.
Namun, pada akhirnya Karki, yang kini berusia 73 tahun, menjadi sosok yang paling banyak didukung. Dari 7.713 suara yang masuk, ia berhasil melampaui ambang 50% lebih cepat dari kandidat lain.
Tekanan Terhadap Militer
Situasi politik kian menegang setelah militer Nepal mengambil alih jalanan Kathmandu dengan memberlakukan jam malam pasca pengunduran diri Oli. Menurut laporan South China Morning Post, para petinggi militer bahkan sempat bertemu dengan perwakilan Discord untuk meminta usulan nama calon PM interim.
Meski konstitusi Nepal memiliki klausul darurat untuk penunjukan pemimpin sementara, belum jelas apakah tentara akan secara resmi mengakui hasil pemilihan ala Gen Z tersebut.
Suara Gen Z: Demokrasi Harus Hidup
Bagi banyak anak muda Nepal, aksi ini menunjukkan bahwa mereka menolak pasrah dengan situasi politik lama.
“Kami tidak punya pemimpin yang pasti untuk mewakili kami. Kadang rasanya seperti panggilan random di media sosial. Tapi diskusi ini membuktikan bahwa generasi muda ingin suaranya didengar, meski formatnya agak kacau,” kata Samdip Yadav, lulusan 23 tahun dari Kathmandu.
Gen Z Nepal kini menunggu langkah militer: apakah suara mayoritas di Discord akan diakui, atau justru diabaikan di tengah tarik ulur kekuasaan yang sedang berlangsung.

Leave a Reply