26 Ribu Pria Sleman Ikut KB Vasektomi! Program Insentif Rp1 Juta Picu Lonjakan

26 Ribu Pria Sleman Ikut KB Vasektomi! Program Insentif Rp1 Juta Picu Lonjakan Partisipasi
Ilustrasi Vasektomi (Istock)

JOSS.CO.iD, SLEMAN – Partisipasi pria dalam program Keluarga Berencana (KB) Vasektomi di Kabupaten Sleman meningkat pesat pada 2025. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan KB (DP3AP2KB) Sleman mencatat sebanyak 26.290 pria atau 27 persen dari 97.371 peserta KB aktif telah memilih metode vasektomi.

Angka tersebut mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya, yakni 25 persen pada 2024 dan 20 persen pada 2023. Peningkatan ini disebut tak lepas dari kebijakan Pemkab Sleman yang memberikan insentif Rp1 juta bagi setiap pria yang menjalani vasektomi.

“Artinya jumlah kelahiran di Sleman semakin menurun. Program KB di Sleman berarti berhasil,” kata Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan KB DP3AP2KB Sleman, Dwi Wiharyanti, Selasa (16/9).

Insentif Dorong Minat Vasektomi

Program pemberian insentif Rp1 juta ini sudah berjalan sejak beberapa tahun lalu. Tujuannya untuk mendorong pria ikut serta dalam program KB yang selama ini lebih banyak dibebankan kepada perempuan.

Selain uang tunai, peserta vasektomi juga mendapatkan pendampingan medis serta edukasi sebelum dan sesudah tindakan. Sosialisasi dilakukan hingga ke tingkat kapanewon lewat Petugas Lapangan KB (PLKB).

Dwi menjelaskan, meningkatnya partisipasi pria berdampak pada angka kelahiran yang terus menurun. Saat ini, angka total fertility rate (TFR) di Sleman berada pada kisaran 1,8–1,77, lebih rendah dari standar ideal nasional yang berada di angka 2,1.

Menurutnya, kondisi tersebut menandakan pertumbuhan penduduk Sleman semakin terkendali. “Kami ingin penduduk tumbuh seimbang sehingga tidak menimbulkan beban sosial maupun ekonomi di kemudian hari,” ucap Dwi.

Selain program vasektomi, Pemkab Sleman juga gencar melakukan sosialisasi tentang pentingnya perencanaan keluarga. Kegiatan dilakukan melalui edukasi remaja, pemberdayaan lansia, serta kampanye kesehatan reproduksi di masyarakat.

“Pria diharapkan bisa terlibat lebih aktif. KB bukan hanya tanggung jawab perempuan, tapi juga bagian dari peran laki-laki dalam menjaga keseimbangan keluarga,” tambah Dwi.

Meski meningkat, jumlah akseptor vasektomi tetap lebih sedikit dibanding metode KB lain seperti suntik, pil, maupun IUD. Sejumlah tantangan masih dihadapi, antara lain minimnya informasi, kekhawatiran soal efek samping, serta keterbatasan kuota layanan vasektomi di beberapa fasilitas kesehatan.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*