
JOSS.CO.ID, Jerman – Para pekerja TikTok di Jerman menggelar aksi mogok sebagai bentuk protes terhadap rencana PHK massal tim trust and safety di Berlin.
Tim ini selama ini bertugas memoderasi dan menghapus konten berbahaya dari platform. Perusahaan berencana membubarkan seluruh tim moderasi di ibu kota dan mengalihkan pekerjaan ke teknologi AI serta pegawai kontrak.
Jika rencana tersebut diterapkan, sekitar 150 karyawan akan kehilangan pekerjaan. Serikat pekerja ver.di, yang mewakili para pegawai, telah mendesak negosiasi terkait pesangon dan perpanjangan masa pemberitahuan PHK menjadi satu tahun. Namun, TikTok disebut menolak berunding, memicu dua kali aksi mogok tanpa respons dari manajemen.
Tim trust and safety di Berlin melayani pasar berbahasa Jerman dengan sekitar 32 juta pengguna aktif. Dari total 400 pegawai TikTok di ibu kota, PHK ini akan memangkas hampir 40% tenaga kerja.
Juru bicara perusahaan, Anna Sopel, menyatakan langkah ini dilakukan untuk menyederhanakan alur kerja dan meningkatkan efisiensi, sambil menegaskan komitmen terhadap keamanan dan integritas platform.
Di Jerman maupun negara lain, tim trust and safety bertugas meninjau ribuan video setiap hari untuk memastikan tidak ada unsur kekerasan, pornografi, misinformasi, atau ujaran kebencian. Meski sebagian proses dibantu AI, peran manusia tetap vital.
Pemangkasan tim moderasi bukan hanya terjadi di Jerman. Pada 2024, TikTok telah merumahkan ratusan pegawai di Belanda, Malaysia, Asia, Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Ironisnya, langkah ini muncul setelah CEO TikTok, Shou Zi Chew, berjanji di hadapan Kongres AS untuk meningkatkan anggaran trust and safety hingga US$ 2 miliar.
Fenomena serupa juga terjadi di perusahaan media sosial lain seperti Snap Inc., X, dan Meta yang menggantikan sebagian besar staf moderasi konten dengan AI. Namun, para pakar memperingatkan, penggantian tenaga manusia dapat meningkatkan risiko kesalahan dan merugikan pengalaman pengguna, khususnya anak di bawah umur.

Leave a Reply