JOSS.CO.ID, Jakarta – Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) menegaskan bahwa program Sekolah Rakyat berpotensi menjadi solusi untuk memutus rantai kemiskinan di Indonesia.
“Sekolah Rakyat saat ini sedang membangun 100 sekolah unggul. Program ini diyakini mampu mengubah masa depan anak-anak dari keluarga miskin,” ujar Dirjen Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Fifi Aleyda Yahya, di Jakarta, Sabtu (16/8).
Fifi menambahkan, anak-anak yang bersekolah di Sekolah Rakyat telah mendapat izin orang tua untuk tinggal di asrama. Mereka mengikuti pendidikan formal sesuai jenjangnya, mulai dari SD, SMP, hingga SMA.
“Dengan restu orang tua, anak-anak ini akan bersekolah di asrama. Insya Allah, ke depan mereka bisa mengangkat derajat keluarganya,” jelas Fifi.
Program pendidikan gratis ini merupakan gagasan Presiden Prabowo Subianto. Sekolah Rakyat ditujukan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, khususnya yang tercatat dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) Desil 1 dan 2.
Selain materi akademik, siswa juga mendapat pendidikan karakter, termasuk nilai agama, kepemimpinan, dan keterampilan hidup. Siang hari digunakan untuk belajar formal, sementara malam hari diisi dengan pembinaan karakter.
Kementerian Sosial melaporkan, sebanyak 165 sekolah rintisan ditargetkan beroperasi tahun ini. Dari jumlah itu, 100 Sekolah Rakyat sudah mulai beroperasi sejak Juli dan Agustus.
Pembangunan tahap pertama tersebar di berbagai wilayah Indonesia: 22 sekolah di Sumatera, 48 di Jawa, empat di Bali dan Nusa Tenggara, empat di Kalimantan, 15 di Sulawesi, empat di Maluku, dan tiga di Papua.
Sebagai bentuk dukungan, Presiden Prabowo memberikan pembekalan kepada 154 kepala sekolah dan 2.221 guru Sekolah Rakyat di Jakarta pada Jumat (22/8).

Leave a Reply