
JOSS.CO.ID, Tel Aviv — Ribuan warga Israel memadati jalan-jalan untuk menolak rencana pemerintah memperluas operasi militer di Gaza, Palestina.
Aksi ini berlangsung setelah kabinet keamanan Israel pada Jumat (8/8) menyetujui lima prinsip akhir perang, termasuk mengambil alih kendali keamanan Jalur Gaza. Militer Israel bahkan menyatakan siap menguasai Kota Gaza sepenuhnya.
Para demonstran, yang di antaranya merupakan keluarga dari 50 sandera di Gaza (20 di antaranya diyakini masih hidup), khawatir langkah tersebut akan mengancam keselamatan para sandera. Mereka mendesak pemerintah fokus pada pembebasan sandera sebelum memperluas operasi militer.
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menepis kritik itu. “Rencana ini justru akan membantu membebaskan sandera kami,” ujarnya, dikutip dari BBC, Senin (11/8).
Pada Sabtu (9/8) malam, ribuan pengunjuk rasa memblokir Jalan Raya Ayalon di Tel Aviv sambil menyalakan api unggun. Di Yerusalem, aksi juga diikuti mantan tentara Israel Max Kresch, yang pernah bertugas di awal perang Gaza pada akhir 2023.
“Kami lebih dari 350 tentara menolak perang politik Netanyahu yang membahayakan sandera dan membuat warga Gaza kelaparan,” tegasnya.
Menurut Times of Israel, keluarga sandera dan tentara juga berunjuk rasa di dekat markas Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di Tel Aviv. Mereka menyerukan agar tentara menolak bertugas dalam operasi yang dinilai membahayakan para sandera. Seorang ibu sandera bahkan meminta militer mogok bertempur.
Polisi Israel menangkap tiga orang dalam aksi tersebut dan menyita bahan yang diduga akan digunakan untuk membakar jalan. Di sisi lain, Netanyahu mendapat peringatan keras dari Kepala Staf Angkatan Darat Letjen Eyal Zamir, yang menilai pendudukan penuh Gaza berisiko besar dan bisa membuat Israel “terjebak” di medan perang.
Hasil survei terbaru menunjukkan mayoritas publik Israel lebih mendukung kesepakatan dengan Hamas demi pembebasan sandera dan penghentian perang, dibanding memperluas operasi militer.

Leave a Reply