
JOSS.CO.ID, Jakarta – Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) resmi menyalurkan beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) mulai Juli hingga Desember 2025. Total penyaluran ditargetkan mencapai 1,3 juta ton atau 1.318.826.629 kilogram.
Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, menyatakan bahwa program ini dilaksanakan bersamaan dengan bantuan pangan beras untuk menekan fluktuasi harga di pasar.“Penyaluran sudah dimulai sejak Juli dan ditugaskan langsung kepada Perum Bulog berdasarkan surat penugasan tertanggal 8 Juli 2025,” ujarnya, Kamis (10/7/2025).
Penyaluran beras SPHP tahun ini juga melibatkan koperasi desa dan kelurahan Merah Putih sebagai mitra distribusi. Arief menegaskan, kehadiran koperasi di tingkat lokal dapat memperluas jangkauan program agar manfaatnya lebih dirasakan masyarakat.
Dalam petunjuk teknis yang dilampirkan, mitra penyalur dilarang mencampur beras SPHP dengan jenis lain. Konsumen pun hanya boleh membeli maksimal 10 kg atau dua pak, dan dilarang menjual kembali beras tersebut.
Harga Bulog
Untuk daerah khusus seperti Maluku, Papua, dan wilayah 3TP (tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan), Bulog diberi kewenangan menyalurkan beras SPHP dalam kemasan 50 kg. Harga penjualan di gudang Bulog ditetapkan berbeda per wilayah:
- Rp11.000/kg untuk Jawa, Lampung, Sumsel, Bali, NTB, dan Sulawesi
- Rp11.300/kg untuk NTT, Kalimantan, dan Sumatera lainnya
- Rp11.600/kg untuk Maluku dan Papua
Masyarakat bisa mendapatkan beras SPHP sesuai harga eceran tinggi (HET) beras medium yang telah ditetapkan dalam Peraturan Bapanas Nomor 5 Tahun 2024. Arief menegaskan, pemerintah akan bertindak tegas terhadap mitra yang menjual di atas HET melalui Satgas Pangan Polri.
“Kami mengajak pemda, masyarakat, dan Satgas Pangan untuk bersama-sama mengawasi agar distribusi beras SPHP berjalan adil dan tepat sasaran,” tutup Arief.

Leave a Reply