
JOSS.CO.ID, Semarang – Indonesian Fashion Chamber (IFC) Semarang Chapter kembali menggelar ajang tahunan bertajuk Jateng Fashion Trend 2025, sebagai wadah promosi potensi lokal dan penguatan posisi Semarang sebagai pusat mode nasional.
Ketua IFC Semarang, Sudarna Suwarsa, menyatakan komitmennya untuk menjadikan ajang ini sebagai agenda tahunan yang konsisten menampilkan kekayaan budaya lokal melalui fashion.
“Kami ingin Semarang bangkit menjadi kota mode, terutama dalam kategori pakaian pesta, busana pengantin, dan produk custom made lainnya,” ujarnya di Renaissance Ballroom, Minggu (13/7).
Menurut Sudarna, Semarang memiliki karakter kuat dalam dunia mode, khususnya di sektor custom made. Ia menegaskan pentingnya mendorong Semarang sebagai episentrum mode nasional yang berdaya saing tinggi.
Tahun ini, IFC Semarang mengusung tema Eco Luxury, yang menggabungkan unsur kemewahan global dengan nilai-nilai lokal dan prinsip keberlanjutan. Tema ini juga menandai kepedulian industri terhadap isu industri fesyen berkelanjutan.
PIC 1 Jateng Fashion Trend 2025, Elkana Gunawan, menjelaskan bahwa tema eco fashion menjadi pilihan karena industri mode kini perlu lebih ramah lingkungan.
“Kami tidak hanya mengedepankan keindahan, tapi juga mengajak pelaku mode untuk bertanggung jawab terhadap bumi,” jelas Elkana.
Konsep “eco” yang diusung tak hanya berfokus pada pewarna alami, tetapi juga pada pemanfaatan limbah, penggunaan bahan tahan lama, dan penolakan terhadap tren fast fashion.
IFC Semarang juga memberdayakan berbagai komunitas, termasuk ibu rumah tangga, pelajar, dan mahasiswa untuk terlibat dalam proses kreatif seperti kerajinan tangan dan sulaman.
“Kami ingin proses ini melibatkan seluruh unsur masyarakat, dari hulu ke hilir,” kata Sudarna.
Acara ini turut menghadirkan desainer kenamaan seperti Bramanta, Novita Ave Sanjaya, dan Samuel Wattimena. Selain itu, Bank Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Tengah juga menghadirkan 40 peserta dalam sesi “Fashion Incubation 2025”, terdiri atas 20 peserta desain dan 20 produksi. Mereka dibimbing oleh Wignyo Rahadi dan mentor profesional seperti David Yan, Enricho Ho, Erika Ardianto, dan Sudarna Suwarsa.
Selama 14 hari pelatihan, peserta mengikuti kurasi ketat dari 110 calon hingga menghasilkan 20 koleksi busana bertema Tiga Pusaka Jawa Tengah, sebagai bentuk sinergi antara pelatihan dan pelestarian budaya.

Leave a Reply