Warga Tumpangkrasak Kudus Gelar Tradisi Mapak Suro, Satukan Air Empat Punden Sambut 1 Muharam

Masjid menara kudus. (Foto: istimewa)

‎JOSS.CO.ID, Kudus – Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1447 Hijriah, masyarakat Desa Tumpangkrasak, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, menggelar tradisi budaya Mapak Suro dengan menyatukan air dari empat punden yang dihormati warga.

‎Tradisi yang berlangsung pada Kamis malam (26/6) ini diawali dengan kirab budaya, di mana perwakilan dari empat pedukuhan membawa air suci dari masing-masing punden: Mbah Surgipati, Jayengrono, Mertoyudho (Gledheg), dan Djowero Muso.

‎“Setiap punden disiapkan tujuh kendi kecil, sehingga total ada 28 kendi yang kemudian disatukan ke dalam kendi besar sebagai simbol persatuan,” jelas Kepala Desa Tumpangkrasak, Sarjoko Saputro, Jumat (27/6/2025).

‎Sarjoko menegaskan, Mapak Suro bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga menjadi momen refleksi dan evaluasi diri bagi warga desa. Ia mengajak masyarakat untuk menjadikan bulan Suro sebagai waktu memperbaiki diri dan mempererat kerukunan.

‎Prosesi penyatuan air dari empat sumber suci dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin para tokoh desa di Balai Desa Tumpangkrasak. Acara ini juga menjadi simbol kuatnya nilai gotong royong dan penghormatan terhadap leluhur.

‎“Tradisi ini kami sebut juga Teteseng Suci Wiyosaning Leluhur Sekawan Punden. Melalui kegiatan ini, kami ingin merawat budaya dan menyatukan masyarakat lintas pedukuhan,” tambahnya.

‎Sebagai puncak kemeriahan, kirab keliling desa akan digelar Minggu (29/6), bertepatan dengan hari libur agar lebih banyak warga bisa ikut serta dan menyemarakkan acara budaya khas Kudus ini.

‎Dengan partisipasi tinggi dari seluruh lapisan warga, tradisi Mapak Suro menjadi bagian penting dari identitas kultural Desa Tumpangkrasak dan warisan kearifan lokal Jawa Tengah yang terus dijaga lintas generasi.

‎

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*