
JOSS.CO.ID, Lombok – Seorang pendaki asal Brasil, Juliana Marins (26), ditemukan tewas setelah sempat dilaporkan hilang selama empat hari di kawasan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Insiden ini memicu perhatian luas dari berbagai media asing, termasuk The New York Times, The Independent, hingga BBC dan CNN, serta memicu kritik tajam dari netizen Brasil terhadap prosedur penyelamatan di Indonesia.
Dalam laporan berjudul “Brazilian Who Fell While Hiking Indonesian Volcano is Found Dead”, New York Times menyoroti bahwa keluarga korban menilai tim penyelamat Indonesia tidak memiliki kesiapan dan perlengkapan yang memadai dalam proses pencarian. Sementara itu, kepala tim SAR menyatakan mereka telah berupaya maksimal di tengah medan ekstrem dan cuaca buruk.
Media Inggris The Independent juga melaporkan tantangan berat dalam misi pencarian, termasuk kabut tebal, curamnya jurang, serta hujan deras yang terus-menerus. Bahkan meski tim sempat mendeteksi tanda-tanda kehidupan dari Marins seperti teriakan dan gerakan tubuh melalui drone, mereka tidak bisa langsung menjangkaunya.
Beberapa portal global seperti CBS News, Reuters, AFP, BBC, dan The Straits Times juga memberitakan hal serupa, menyoroti keterlambatan proses evakuasi Gunung Rinjani dan kondisi medan yang menyulitkan.
Marins diketahui memulai pendakian Gunung Rinjani pada Sabtu (21/6/2025) bersama lima wisatawan asing lainnya dengan seorang pemandu. Mereka memulai dari jalur pendakian Sembalun. Dalam perjalanan menuju puncak, korban mengalami kelelahan di area Cemara Tunggal dan disarankan beristirahat, sementara lima pendaki lainnya melanjutkan perjalanan.
Namun, saat rombongan kembali dari puncak, Marins tidak ditemukan di lokasi sebelumnya. Ia diduga jatuh sekitar pukul 06.30 WITA. Proses pencarian baru dimulai pukul 09.50 WITA, namun kondisi medan yang berat serta cuaca berkabut menyulitkan tim SAR mencapai titik jatuhnya korban.
Pencarian terus dilanjutkan menggunakan drone, tetapi tidak membuahkan hasil maksimal. Baru pada Senin (24/6) pukul 07.05 WITA, korban ditemukan dalam kondisi tidak bergerak di dasar jurang. Namun proses evakuasi kembali terhambat hingga akhirnya berhasil dilakukan pada Rabu pagi (25/6) sekitar pukul 06.00 WITA menggunakan metode lifting.
Tragedi ini menjadi sorotan global dan memicu diskusi terkait prosedur penyelamatan dan kesiapan tim SAR Indonesia dalam menghadapi insiden di medan ekstrem seperti Gunung Rinjani.

Leave a Reply