
JOSS.CO.ID, Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menegaskan bahwa pemerintah ingin agar kepemilikan mayoritas perusahaan teknologi GoTo Gojek Tokopedia tetap berada di tangan warga negara Indonesia. Pernyataan ini disampaikan menyusul kabar bahwa perusahaan asal Singapura, Grab Holdings Ltd, tengah mengkaji peluang akuisisi GoTo.
“Pemerintah ingin GoTo tetap dikuasai oleh orang Indonesia,” ujar Dasco singkat saat dimintai tanggapan, Jumat (20/6/2025).
Laporan tahunan GoTo 2024 mencatat bahwa sekitar 73,90% saham GoTo saat ini dikuasai investor asing, termasuk SoftBank Group (Jepang) dan Taobao Holding milik Alibaba (Tiongkok). Dua entitas asing tersebut masing-masing menggenggam 7,65% dan 7,43% saham GoTo.
Terkait isu merger, Dasco belum memberikan detail terkait syarat apa saja yang mungkin diterapkan pemerintah terhadap rencana penggabungan dua raksasa ride-hailing itu.
Sementara itu, Wakil Menteri Ketenagakerjaan Immanuel Ebenezer juga mengaku belum mengetahui adanya persyaratan khusus yang disiapkan untuk merger Grab dan GoTo.
Rumor akuisisi ini sebenarnya telah beredar sejak 2020 dan kembali mencuat pada awal 2024. Bloomberg bahkan sempat menyebut bahwa proses merger ditargetkan rampung pada kuartal II tahun ini. Namun, dalam pernyataan terbaru, Grab menegaskan bahwa mereka belum menjalin pembicaraan akuisisi GoTo secara resmi dan tidak ada perjanjian yang telah ditandatangani.
“Indonesia tetap menjadi pasar strategis kami, di mana kami terus melayani pelanggan, mitra pengemudi, dan merchant,” ujar Grab melalui siaran pers.
Reuters mengutip tiga sumber yang menyatakan pembicaraan antara kedua pihak masih membutuhkan waktu karena pemerintah Indonesia menetapkan sejumlah syarat. Dua sumber mengatakan bahwa pemerintah tengah menilai dampak merger terhadap kesejahteraan kerja dan persaingan usaha, serta mendorong agar entitas hasil merger memberi keuntungan lebih baik bagi mitra pengemudi.
Di sisi lain, Grab menaikkan nilai penerbitan obligasi konversi dari US$ 1,25 miliar menjadi US$ 1,5 miliar (sekitar Rp 24,5 triliun) untuk mendukung potensi akuisisi dan ekspansi.
CFO Grab, Peter Oey, menjelaskan lewat akun LinkedIn bahwa langkah ini akan meningkatkan kas likuid perusahaan menjadi US$ 8,7 miliar, memberi ruang fleksibel untuk ekspansi organik maupun peluang anorganik seperti akuisisi. Nilai kas tersebut melebihi estimasi harga akuisisi GoTo sebesar US$ 7 miliar, seperti dilaporkan Bloomberg.
Analis dari Aletheia Capital, Nirgunan Tiruchelvam, menilai bahwa kesepakatan antara Grab dan GoTo semakin mungkin terwujud. “Grab tampaknya sedang mempersiapkan dana untuk merealisasikan kesepakatan tersebut,” ujarnya.

Leave a Reply