‎OpenAI Raup Pendapatan US$ 10 Miliar Berkat ChatGPT, Targetkan US$ 125 Miliar pada 2029

Ilustrasi ChatGPT OpenAI. (Foto: istimewa)
JOSS.CO.ID, San Francisco – iatau setara dengan Rp 167,3 triliun (mengacu kurs Rp 16.370 per dolar AS). Angka fantastis ini sebagian besar didorong oleh melejitnya popularitas chatbot kecerdasan buatan mereka.

‎Selain layanan konsumen, pendapatan OpenAI juga diperkuat oleh layanan bisnis enterprise serta penggunaan Application Programming Interface (API) oleh para pengembang perangkat lunak. Sejak meluncurkan versi konsumen ChatGPT pada akhir 2022, basis pengguna OpenAI terus melonjak pesat.

‎Hingga Maret 2025, OpenAI melayani 500 juta pengguna aktif mingguan dan memiliki tiga juta pelanggan bisnis berbayar, meningkat signifikan dari dua juta pada Februari. Namun, pendapatan ini tidak termasuk dari lisensi Microsoft ataupun kesepakatan besar lainnya.

‎Meski meraup pendapatan besar, perusahaan yang berbasis di San Francisco itu tetap mencatat kerugian sekitar US$ 5 miliar sepanjang tahun lalu. Mengutip laporan CNBC Internasional, Senin (9/6/2025), OpenAI tengah memperluas skala operasinya secara agresif untuk memperkuat posisi di pasar teknologi AI global.

‎OpenAI juga telah menetapkan target ambisius. Mereka berencana mencetak pendapatan US$ 125 miliar pada tahun 2029. Target ini pertama kali diberitakan oleh The Information yang mengutip sumber internal perusahaan.

‎Pada Maret lalu, OpenAI menyelesaikan putaran pendanaan senilai US$ 40 miliar, menjadikannya salah satu pendanaan teknologi swasta terbesar saat ini. Saat ini, valuasi OpenAI diperkirakan mencapai 30 kali dari total pendapatan tahunannya.

‎Beberapa investor besar yang turut menyuntikkan dana di antaranya Microsoft, SoftBank, Altimeter, Thrive, dan Coatue. Para investor ini menaruh harapan besar pada dominasi OpenAI dalam persaingan kecerdasan buatan global.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*