
“Beberapa negara tampak siap memberikan senjata nuklir kepada Iran,” ujar Medvedev. Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa jam setelah Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa militer AS telah menggempur fasilitas nuklir di Fordow, Natanz, dan Isfahan.
Serangan itu menandai babak baru dalam eskalasi konflik Iran-Israel yang memanas sejak pertengahan Juni. Meski digempur, Medvedev menyebut bahwa dampak serangan terhadap fasilitas nuklir Iran tergolong ringan. Menurutnya, upaya pengayaan uranium dan pengembangan senjata nuklir oleh Iran kemungkinan besar tetap berjalan.
Medvedev menilai bahwa agresi militer AS justru memperkuat posisi politik Iran di mata global. Ia mengkritik Presiden Trump yang dinilainya bertolak belakang dengan citra “pembawa perdamaian” dalam kampanye politiknya. “Alih-alih menyelesaikan konflik, Trump justru menciptakan perang baru,” sindir Medvedev.
Ia juga menyinggung kemungkinan Trump meraih Hadiah Nobel Perdamaian. Menurut Medvedev, hal itu mustahil, karena mayoritas negara dunia mengecam keras serangan udara AS ke Iran dan dukungan terbuka terhadap Israel.
Sejak 13 Juni, serangkaian serangan militer Israel yang didukung Amerika telah memicu respons keras dari Teheran. Iran membalas dengan meluncurkan rudal ke berbagai wilayah Israel.
Pihak Israel melaporkan sedikitnya 25 orang tewas dan ratusan lainnya luka-luka akibat serangan balasan Iran. Sementara itu, Kementerian Kesehatan Iran menyatakan bahwa serangan Israel telah menewaskan 430 warga Iran dan melukai lebih dari 3.500 orang.
Konflik ini menunjukkan tanda-tanda akan berlarut, memperburuk stabilitas kawasan dan memperbesar risiko eskalasi Timur Tengah secara global.

Leave a Reply