Iran Kutuk Israel atas Dugaan Pembajakan Kapal Madleen yang Bawa Greta Thunberg ke Gaza

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei. (Foto: istimewa)

‎JOSS.CO.ID, Jakarta – Pemerintah Iran mengecam keras tindakan militer Israel yang diduga menculik 12 penumpang kapal Madleen, termasuk aktivis iklim terkenal Greta Thunberg. Kapal tersebut sedang menjalankan misi kemanusiaan untuk mengirim bantuan ke Gaza.

‎Greta dan belasan relawan lainnya diketahui memulai pelayaran dari awal Juni 2025. Namun, pada Senin (9/6) dini hari waktu setempat, pasukan Israel menghentikan kapal tersebut di perairan internasional dan menggiringnya ke Pelabuhan Ashdod.

‎Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut aksi tersebut sebagai bentuk pembajakan yang melanggar hukum internasional.

‎“Karena terjadi di wilayah laut internasional, penyerangan terhadap kapal ini jelas tergolong pembajakan,” tegas Baghaei dalam konferensi pers yang dikutip dari AFP.

‎Pasukan Israel juga dilaporkan memaksa seluruh penumpang mematikan telepon. Beredar pula video yang menunjukkan para relawan mengenakan jaket pelampung dan mengangkat tangan sebagai tanda menyerah.

‎Pemilik kapal Madleen, Freedom Flotilla Coalition (FFC), menyerukan bantuan internasional atas penahanan ini.

‎“SOS! Para relawan di Madleen diculik oleh pasukan Israel,” tulis FFC dalam pernyataannya.

‎Israel membenarkan bahwa mereka telah membawa kapal ke pelabuhan Ashdod. Namun, mereka mengklaim bahwa semua bantuan ke Gaza wajib melalui pelabuhan tersebut.

‎Klaim Israel dibantah oleh Pelapor Khusus PBB, Francesca Albanese. Menurutnya, Gaza terletak di perairan internasional dan Israel tidak memiliki kewenangan untuk memblokade bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.

‎“Israel tidak punya otoritas atas Gaza. Mereka harus segera mengakhiri blokade,” tegas Albanese.

‎Misi pelayaran kapal Madleen merupakan bagian dari upaya global untuk mendukung rakyat Gaza yang menghadapi blokade total dari Israel. Akibat blokade ini, krisis pangan di Gaza semakin parah dan bantuan kemanusiaan sulit masuk.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*