
Juru bicara layanan darurat Israel mengonfirmasi bahwa pecahan rudal dan misil jatuh di 10 lokasi berbeda, seperti Tel Aviv, Haifa, Carmel, dan pesisir utara. Kerusakan parah dilaporkan di beberapa area tersebut.
Mengutip kantor berita Tasnim, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyatakan bahwa serangan ini menggunakan rudal jarak jauh berbahan bakar cair dan padat. Target utama termasuk fasilitas penelitian militer serta sejumlah pusat komando dan kendali Israel.
Dalam laporan Al Jazeera, militer Israel menyebutkan bahwa Iran melancarkan dua gelombang serangan. Gelombang pertama terdiri dari 22 rudal, disusul lima rudal tambahan dalam gelombang kedua, sehingga total mencapai 27 rudal. Uniknya, jeda antara kedua serangan tersebut hanya sekitar 30 menit, berbeda dari biasanya yang memiliki interval waktu beberapa jam.
Area yang menjadi sasaran serangan mencakup wilayah luas, mulai dari Dataran Tinggi Golan, Galilea utara, hingga pesisir tengah Israel. Dampaknya terasa signifikan di kawasan Tel Aviv dan Haifa.
Serangan ini merupakan balasan langsung atas tindakan militer AS yang menghantam tiga fasilitas nuklir Iran — Natanz, Esfahan, dan Fordow — pada Sabtu malam (21/6). Presiden AS, Donald Trump, menyatakan bahwa serangan itu menggunakan enam bom penghancur bunker di Fordow dan 30 rudal Tomahawk di dua lokasi lainnya.
“Ini adalah keberhasilan luar biasa. Iran harus segera menyatakan damai atau bersiap diserang kembali,” tegas Trump dalam wawancara yang dikutip dari Reuters.
Sebelumnya, Reuters melaporkan pergerakan pesawat pengebom B-2 milik AS yang diduga membawa senjata berat untuk menyerang fasilitas bawah tanah di Fordow. Seorang pejabat Iran mengonfirmasi bahwa area Fordow memang terkena serangan udara oleh “musuh.”

Leave a Reply