
Lebih dari 2.200 delegasi dari 65 negara hadir, termasuk sejumlah pemimpin tinggi dunia seperti Perdana Menteri Pakistan, Wakil Presiden Iran, serta pejabat tinggi dari Gambia, Zimbabwe, dan Maladewa. Tak kurang dari 70 organisasi internasional turut serta, termasuk Wakil Sekjen PBB Amina J. Mohammed dan perwakilan dari WMO, UNESCAP, serta utusan khusus PBB untuk isu air.
Dalam sesi pleno, Wamenlu Tata Nasir menyampaikan kekhawatiran Indonesia terhadap dampak mencairnya gletser, meskipun Indonesia adalah negara tropis. Ia mencontohkan, 99% luas gletser di Puncak Carstensz, Papua, telah menghilang akibat perubahan iklim ekstrem.
”Indonesia bukan hanya peduli, tetapi terdampak langsung. Kami menekankan pentingnya penguatan kerja sama multilateral, khususnya melalui pendanaan iklim yang adil dan akses terhadap teknologi adaptif,” ujar Tata dalam pernyataan resmi.
Tata juga menegaskan bahwa pelestarian gletser merupakan bagian dari menjaga masa depan umat manusia secara menyeluruh. Indonesia mendukung solusi inklusif dan berbasis kolaborasi untuk menangani tantangan iklim global.
Presiden Tajikistan, Emomali Rahmon, dalam pidato pembukaannya mengungkapkan kekhawatiran atas mencairnya lebih dari 600 gigaton es dalam beberapa dekade terakhir. Sementara itu, Wakil Sekjen PBB Amina J. Mohammed menyoroti pentingnya pendanaan yang kuat, kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) untuk mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Kehadiran Indonesia dalam forum ini mencerminkan peran aktif pemerintah dalam mendorong kerja sama internasional demi masa depan iklim yang tangguh dan berkeadilan.

Leave a Reply