
JOSS.CO.ID, Jakarta – Dunia siber kembali diguncang oleh salah satu kebocoran data terbesar dalam sejarah. Sebanyak 16 miliar kredensial login, termasuk dari layanan populer seperti Apple, Google, dan Facebook, dilaporkan bocor ke publik.
Laporan ini disampaikan oleh Cybernews, yang menemukan 30 dataset besar berisi puluhan juta hingga miliaran data login.
“Ini bukan sekadar insiden kebocoran biasa. Ini adalah cetak biru eksploitasi massal,” kata peneliti dari Cybernews, dikutip dari Forbes, Sabtu (21/6/2025).
Peneliti menambahkan bahwa kebaruan dan struktur dataset ini sangat mengkhawatirkan.
“Ini bukan data lama yang diulang. Ini adalah intelijen segar yang bisa dipersenjatai untuk aksi kejahatan siber berskala besar,” ujarnya.
Dari temuan tersebut, hanya satu dataset yang pernah terungkap sebelumnya, yaitu 184 juta data login yang dilaporkan oleh Wired Magazine pada Mei 2025. Sementara 29 dataset lainnya belum pernah diketahui publik sebelumnya.
Kebanyakan data memiliki format sederhana: URL, username, dan password. Data ini memungkinkan pelaku kejahatan siber untuk membobol akun pengguna di berbagai layanan digital, mulai dari media sosial hingga platform pemerintah.
Cybernews menyebutkan, sebagian besar data dikumpulkan melalui infostealer malware, credential stuffing, dan kebocoran lama yang direkonstruksi ulang. Mereka mengakui ada kemungkinan data duplikat, sehingga jumlah akun terdampak belum bisa dipastikan secara akurat.
Meski situasi ini sangat serius, pengguna internet tidak disarankan panik. Langkah preventif tetap bisa dilakukan, seperti mengganti semua password dengan kombinasi yang lebih kuat dan unik, serta mengaktifkan two-factor authentication (2FA) di seluruh akun.
Untuk mengetahui apakah data pribadi Anda termasuk dalam kebocoran ini, pengguna bisa mengakses situs Have I Been Pwned atau layanan serupa. Jika ditemukan kredensial yang bocor, segera lakukan perubahan dan tingkatkan keamanan akun digital Anda.

Leave a Reply