
Di Indonesia, sebanyak 2.095 peserta terlibat dalam uji klinis vaksin TBC ini, dengan mayoritas berasal dari wilayah Jawa Barat. Proses uji coba juga menggandeng sejumlah institusi ternama seperti Universitas Padjajaran dan Universitas Indonesia. Pemerintah menargetkan vaksin siap digunakan sebelum tahun 2029.
“Vaksin ini mulai kami suntikkan sejak November 2024,” tegas Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat ditemui di Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (9/5/2025).
Budi menambahkan bahwa hingga saat ini tidak ada laporan efek samping serius dari para peserta uji klinis. Menurutnya, keamanan vaksin sudah diuji sejak fase awal beberapa tahun lalu.
“Kalau ada efek samping, langsung ditindak saat itu juga. Sampai sekarang tidak ada masalah,” ujar Menkes.
Vaksin TBC M72 masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuktikan efektivitasnya dalam mencegah gejala berat pada berbagai kelompok usia. Selain itu, evaluasi efikasi dan durasi perlindungan juga masih berlangsung.
Namun, Menkes menegaskan bahwa tidak ada vaksin yang memiliki efikasi 100 persen. “Kita tidak bisa mengklaim angka kemanjuran setinggi itu,” jelasnya.
Jika vaksin ini terbukti efektif, Indonesia berpeluang besar menjadi negara utama dalam produksi vaksin TBC, bekerja sama dengan Bio Farma. Menkes juga membantah isu bahwa vaksin TBC akan diproduksi di Singapura.
“Itu tidak benar, hoaks. Pabriknya bukan di Singapura, tapi sedang dibangun di Amerika,” tegas Budi.
Ia menambahkan, “Karena Indonesia ikut clinical trial, kami akan dorong Bio Farma untuk memproduksinya di dalam negeri, bukan di tempat lain.”

Leave a Reply