
JOSS.CO.ID, Jakarta – Hamas menegaskan penolakannya terhadap tawaran gencatan senjata dari Israel. Israel pun kembali berusaha menekan kelompok tersebut dengan ancaman. Kesepakatan gencatan senjata yang dimulai pada Sabtu (19/04/2025) hanya berlangsung selama dua bulan dan gagal diperpanjang.
Meski Israel ingin memperpanjang kesepakatan tersebut, Hamas menuntut agar gencatan senjata dilanjutkan sesuai dengan rencana tahap kedua yang telah dibicarakan sebelumnya.
Perundingan mengenai gencatan senjata kembali dimulai dalam beberapa hari terakhir. Seorang sumber dari Hamas mengatakan kepada AFP bahwa kelompok tersebut telah mengirimkan tanggapan tertulis pada Kamis (17/4) kepada para mediator yang terlibat, menanggapi tawaran terbaru dari Israel yang mengusulkan gencatan senjata selama 45 hari.
Tawaran tersebut mencakup permintaan Israel untuk pembebasan 10 sandera yang masih hidup, dengan imbalan pembebasan 1.231 tahanan Palestina yang kini berada di penjara Israel, serta pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza yang diperbolehkan kembali. Namun, Hamas menolak tawaran Israel yang juga mencakup permintaan untuk melucuti senjata para petempur Hamas sebagai syarat untuk mengakhiri perang sepenuhnya.
Seorang pejabat senior Hamas, Al-Hayya, yang merupakan kepala negosiator kelompok tersebut, dengan tegas menanggapi tawaran Israel.
“Kesepakatan parsial ini hanya akan digunakan oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sebagai kedok untuk agenda politiknya… kami tidak akan terlibat dalam kebijakan semacam ini,” kata Al-Hayya dalam pernyataan yang dikeluarkan pada Kamis (17/04) malam.
Menurut Hamas, kelompok tersebut lebih mengutamakan kesepakatan komprehensif yang meliputi pertukaran tahanan dalam satu paket besar, sebagai imbalan atas penghentian perang, penarikan pasukan pendudukan Israel dari Jalur Gaza, dan dimulainya rekonstruksi wilayah tersebut.

Leave a Reply