
JOSS.CO.ID, Jakarta – Pemerintah Amerika Serikat berencana menarik sekitar 1.000 personel militernya dari Suriah dalam beberapa bulan mendatang, sebagai bagian dari pengurangan besar-besaran terhadap kehadiran militer di kawasan tersebut.
Langkah ini menandai perubahan signifikan dalam strategi militer AS di Timur Tengah. Selama bertahun-tahun, militer AS dikerahkan ke Suriah guna mendukung koalisi internasional dalam memerangi kelompok ekstremis Islamic State (ISIS), yang sempat menguasai sebagian besar wilayah di Suriah dan Irak sejak lebih dari satu dekade lalu.
Meski kekuatan utama ISIS telah dihancurkan dan wilayah kekuasaannya telah direbut kembali, kelompok tersebut masih dianggap sebagai ancaman aktif oleh komunitas internasional.
Dalam pernyataan resmi pada Jumat (18/4) waktu setempat, Juru Bicara Pentagon Sean Parnell menyampaikan bahwa Menteri Pertahanan AS telah memerintahkan konsolidasi pasukan di Suriah.
”Hari ini, Menteri Pertahanan menginstruksikan agar pasukan AS di Suriah dikonsolidasikan ke sejumlah lokasi strategis,” ujar Parnell, dikutip dari AFP pada Sabtu (19/4/2025). Namun, ia tidak merinci wilayah mana saja yang akan menjadi titik konsentrasi pasukan tersebut.
Rencana ini menunjukkan bahwa Washington tengah mengevaluasi ulang kehadiran militernya di Timur Tengah, seiring dengan prioritas baru dalam kebijakan luar negeri dan pertahanan nasional.
Sejak pertama kali mengirimkan pasukan ke Suriah, Amerika Serikat berupaya mendukung stabilitas kawasan dan memutus rantai logistik ISIS. Namun kini, dengan kondisi yang dinilai lebih stabil dan tekanan terhadap kelompok teroris tersebut berkurang, AS memilih untuk menurunkan jumlah pasukan secara bertahap.
Langkah ini juga dipandang sebagai bagian dari upaya restrukturisasi dan efisiensi operasi militer di wilayah yang selama ini menjadi titik panas konflik bersenjata.

Leave a Reply