
Jogjakarta, JOSS.CO.ID – Ratusan tenaga kesehatan dan administrasi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, di Jalan Kesehatan Sendowo, Kabupaten Sleman, Provinsi DI Yogyakarta, menggelar aksi unjuk rasa pada Selasa (25/3/2025).
Mereka menyampaikan kritik terkait tunjangan hari raya (THR) yang hanya sebesar 30 persen dari gaji yang mereka terima pada bulan sebelumnya. Selain isu THR, ada sejumlah masalah lain yang dihadapi para pegawai, termasuk beban kerja yang kian berat.
Seorang pegawai RSUP Dr Sardjito yang enggan menyebutkan namanya menyatakan bahwa pemberian THR sebesar 30 persen dianggap tidak layak jika melihat tugas mereka selama ini.
Para karyawan RSUP Dr Sardjito menganggap kontribusi mereka dalam menjaga kualitas pelayanan di rumah sakit seharusnya mendapat penghargaan, salah satunya melalui pemberian THR sebesar 100 persen.
RSUP Dr Sardjito adalah salah satu rumah sakit yang berstatus Badan Layanan Umum (BLU). Untuk rumah sakit BLU di seluruh Indonesia, Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan RI telah mengeluarkan surat bernomor S-90/PB/2025 mengenai pembayaran THR dan gaji ketiga belas tahun 2025 pada Satker BLU.
Dalam surat tersebut dijelaskan bahwa THR dan/atau Gaji Ketiga Belas dapat berasal dari rupiah murni dan/atau PNBP BLU, dengan komponen berupa gaji dan tunjangan kinerja berupa insentif sesuai ketentuan yang berlaku terkait remunerasi BLU.
Gaji untuk Pejabat Pengelola dan Pegawai BLU dibayarkan sebesar 100% dari gaji yang diterima pada bulan Februari 2025 untuk THR, dan pada bulan Mei 2025 untuk Gaji Ketiga Belas.
Pembayaran insentif yang setara dengan tunjangan kinerja bagi Pejabat Pengelola, Tenaga Medis, dan Pegawai BLU dapat mencapai 100%, sementara honorarium Dewan Pengawas diatur lebih lanjut oleh Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan.
“Unjuk rasa tadi itu semua profesi, baik tenaga kesehatan maupun tenaga administrasi. Gabungan,” kata pegawai tersebut saat ditemui di RSUP Dr Sardjito, Selasa (25/3/2025).
Dia menegaskan bahwa pemberian THR sebesar 100% sudah seharusnya diberikan kepada mereka, mengingat pelayanan rumah sakit yang semakin luas dan kompleks, yang mencakup rawat jalan, rawat inap, ruang tindakan, dan ruang penunjang. Pelayanan ini memerlukan perhatian ekstra dari tenaga kesehatan.
Mereka memberikan pelayanan selama tujuh hari dalam seminggu. Pada beberapa kesempatan, seperti cuti bersama, tenaga kesehatan dan administrasi bahkan harus tetap bekerja. Mereka harus memberikan pelayanan kesehatan tanpa ada waktu libur yang cukup untuk beristirahat.
Masalah semakin rumit karena jumlah tenaga kesehatan, seperti perawat, sangat terbatas dan tidak sebanding dengan jumlah pasien dan beban kerja yang ada.
Jawaban RSUP Dr Sardjito

Direktur Utama RSUP Dr Sardjito, dr. Eniarti, menyatakan bahwa pihak direksi rumah sakit akan melakukan evaluasi. Dia menjelaskan bahwa pemberian THR 30 persen sudah mempertimbangkan kondisi pendapatan rumah sakit.
“Kalau pendapatan rumah sakit naik, tentu kami akan menetapkan persentase THR yang lebih baik juga,” kata dr. Eniarti.
Dia menambahkan bahwa pemberian THR tetap harus mempertimbangkan beberapa indikator yang berhubungan dengan kemampuan keuangan rumah sakit.
“Pemberian THR 30 persen itu merupakan aturan dari Dirjen Pelayanan Kesehatan yang ditujukan untuk pengelola dan teman-teman yang menggunakan sistem remunerasi fee per service,” katanya.
Menurutnya, ada tiga hal utama yang menjadi patokan dalam pemberian THR, yaitu kepatutan, keadilan, dan proporsional. Berdasarkan tiga indikator tersebut, Eniarti menegaskan bahwa pemberian THR bisa berbeda antara pegawai satu dengan yang lainnya.
“Ada pegawai yang memang gradingnya di bawah, ada yang di atas. Kami tidak mungkin menyamaratakan. Soal ada rumah sakit lain yang bisa memberikan THR 100% ya mereka ada perhitungan sendiri,” ungkapnya.
Terkait dengan waktu evaluasi dan keputusan yang akan diambil oleh direksi, dia belum bisa memberikan informasi lebih lanjut. Eniarti dan tim direksi berencana untuk melakukan simulasi jumlah THR sesuai dengan tuntutan pegawai.
“Beri kami kesempatan. Kami akan mensimulasikan dulu. Tidak bisa kami sampaikan sekarang,” imbuh dia.

Leave a Reply