
Yogyakarta Diakui Dunia sebagai Pusat Semesta dalam Artikel The New York Times “Never Heard of Yogyakarta? It Might Be the Center of the Universe”
JoSS, JOGJA – Media internasional The New York Times merilis artikel yang menarik perhatian dunia dengan judul, ‘Never Heard of Yogyakarta? It Might Be the Center of the Universe’ Pada 20 Januari 2025. Artikel yang ditulis oleh jurnalis Scott Mowbray ini menggali lebih dalam tentang kondisi Yogyakarta setelah Sumbu Filosofi yang terletak di kota tersebut ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.
Artikel tersebut diterbitkan dalam rubrik Travel dan dengan cepat mengangkat Yogyakarta menjadi pusat perhatian internasional. Mowbray menyebut Yogyakarta sebagai “pusat semesta”, sebuah sebutan yang merujuk pada kekayaan budaya kota ini yang tetap hidup dan berkembang meskipun dunia terus bergerak maju.
Respon Pemerintah DIY: Momentum untuk Pengembangan Pariwisata yang Berkelanjutan
Menanggapi liputan internasional tersebut, Sekretaris Daerah DIY, Beny Suharsono, mengungkapkan bahwa pengakuan UNESCO ini harus dimanfaatkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat Yogyakarta. Dalam wawancara pada Senin (11/02), Beny mengatakan bahwa ini adalah peluang untuk mengembangkan pariwisata yang tetap menghargai dan mengedepankan nilai-nilai budaya lokal.
“Kami menyambut baik liputan ini karena semakin memperkenalkan Yogyakarta ke dunia. Namun, kebanggaan saja tidak cukup. Ini adalah kesempatan untuk memastikan bahwa pariwisata yang berkembang tetap berpijak pada nilai-nilai yang menjadikan Yogyakarta istimewa, mulai dari budaya yang hidup, komunitas yang erat, dan ekonomi yang inklusif bagi masyarakat lokal,” ujar Beny.
Beny juga menambahkan bahwa artikel tersebut tidak hanya menyoroti daya tarik wisata Yogyakarta, tetapi juga menggali nilai-nilai tradisi yang hidup di dalam kehidupan masyarakatnya. Menurutnya, Yogyakarta selalu berusaha untuk bergerak harmonis antara masa lalu dan masa depan.
“Tradisi di sini bukan sekadar peninggalan, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari yang terus berkembang. Komunalitas yang kuat, rasa saling berbagi, serta keseimbangan antara budaya dan modernitas adalah kekuatan yang membuat kota ini tetap bernyawa,” jelas Beny.
Perjalanan Scott Mowbray Menelusuri Yogyakarta: Sumbu Filosofi dan Kehidupan Sehari-hari
Dalam artikel tersebut, Scott Mowbray menggali berbagai aspek kehidupan di Yogyakarta, termasuk Sumbu Filosofi, jalur kosmologis yang menghubungkan Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Laut Selatan. Sumbu Filosofi yang baru-baru ini ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO ini menjadi salah satu fokus utama dalam liputannya. Mowbray menilai kawasan tersebut sebagai simbol keseimbangan spiritual dan budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Mowbray juga mengunjungi kampung-kampung tradisional yang masih mempertahankan nuansa komunitas yang erat. Selain itu, ia menyelami kehidupan sosial masyarakat Yogyakarta melalui kuliner dan seni yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Mowbray mengungkapkan, di setiap sudut kota, saya menemukan sesuatu yang menarik. Dari sepeda motor yang memadati jalanan, hingga warung makan yang menyajikan beragam kuliner lezat, Yogyakarta adalah tempat yang tak pernah kehabisan kejutan.
Kuliner Yogyakarta yang Menggoda Selera
Bagi Mowbray, salah satu hal yang mencuri perhatian di Yogyakarta adalah kuliner jalanannya. Ia menyebutkan bahwa makanan di Yogyakarta sangat bervariasi dan menggugah selera, dari bakmi goreng di warung pinggir jalan hingga ayam goreng kampung dengan sambal manis-pedas. Bahkan, untuk sarapan, Mowbray menyarankan warung Bu Sukardi yang menyajikan wedang tahu, hidangan tahu lembut dengan air jahe pedas dan gula aren.
Tak hanya kuliner, Mowbray juga mengunjungi beberapa situs budaya penting di Yogyakarta, termasuk Museum Sonobudoyo, berbagai galeri seni, dan pasar-pasar tradisional. Keberagaman seni dan budaya yang ada membuat Yogyakarta semakin menarik untuk dijelajahi oleh wisatawan dunia.
Sumbu Filosofi: Harmoni Antara Masa Lalu dan Masa Depan
Mowbray menggambarkan kawasan Sumbu Filosofi sebagai tempat yang tampak sederhana dan bahkan nyaris tersembunyi, terhimpit oleh pesatnya perkembangan kota modern. Namun, di balik kesederhanaannya, Sumbu Filosofi memiliki makna yang dalam dalam budaya dan kehidupan masyarakat Yogyakarta.
Ia pun menutup artikelnya dengan sebuah pernyataan yang menyentuh, “It’s Jogja’s universe, we just visit it,” yang menunjukkan bahwa Yogyakarta adalah tempat yang memiliki daya tarik dan kekuatan luar biasa, bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dihargai dan dipahami.
Artikel The New York Times ini menjadi pengakuan yang luar biasa bagi Yogyakarta, sekaligus menjadi kesempatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk terus melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai budaya yang ada. Pengakuan UNESCO terhadap Sumbu Filosofi bukan hanya tentang warisan budaya, tetapi juga tentang bagaimana sebuah kota bisa tetap menjaga keseimbangan antara masa lalu dan masa depan. Kini, Yogyakarta bukan hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga menjadi simbol dari harmoni yang memungkinkan tradisi dan modernitas berjalan beriringan.

Leave a Reply