PMK Menyebar di Bantul, 28 Sapi Tewas dan 182 Positif Terinfeksi

Ilustrasi menggambarkan sapi sedang makan
Ilustrasi menggambarkan sapi sedang makan

JoSS, BANTUL – Penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kabupaten Bantul semakin meluas, menambah kekhawatiran di kalangan peternak setempat. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul melaporkan bahwa hingga Senin (7/1/2025), 28 ekor sapi telah mati akibat infeksi PMK, sementara 182 ekor sapi lainnya dinyatakan positif terinfeksi.

Kepala DKPP Kabupaten Bantul, Joko Waluyo, mengungkapkan bahwa dari jumlah sapi yang terinfeksi, “Dua di antara yang sakit itu dipotong paksa”. dan terus berupaya untuk menanggulangi wabah ini dengan berbagai langkah yang telah kami lakukan.

Untuk menekan penyebaran PMK, DKPP Bantul telah mengeluarkan Surat Edaran No. B/500.7.2.4/09481/DKPP yang ditandatangani oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Bantul, Agus Budiraharja, pada tanggal 30 Desember 2024. Salah satu upaya yang disarankan adalah vaksinasi bagi ternak yang sehat dan segera melaporkan gejala penyakit kepada Puskeswan setempat agar penanganan dapat dilakukan dengan cepat.

Selain itu, DKPP Bantul juga memperketat pengawasan, terutama di pasar hewan Imogiri yang menjadi pusat aktivitas jual beli ternak. Di pasar tersebut, pihak DKPP telah melakukan disinfeksi secara rutin, serta mengoptimalkan kebersihan kandang dan mengisolasi ternak baru yang masuk ke wilayah Bantul guna mencegah penularan.

Salah satu peternak di Dusun Depok Parangtritis, Awal Naryadi, mengungkapkan kekhawatirannya terkait wabah PMK. Dari 80 ekor sapi yang dipeliharanya, 60% di antaranya terinfeksi PMK. “Agar tidak meluas, kami minta anggota kelompok kami untuk melakukan penyemprotan disinfektan di kandang dan sekitarnya,” jelas Awal.

Sementara itu, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan DKPP Bantul, Novriyeni, memberikan klarifikasi bahwa sapi yang terinfeksi PMK masih aman untuk dijual dan dagingnya bisa dikonsumsi. PMK bukan penyakit zoonosis, yang berarti penyakit ini tidak dapat menular ke manusia. “Dagingnya masih aman dikonsumsi. Asalkan dimasak dengan baik dan aman,” katanya.

Novriyeni juga menyampaikan bahwa jumlah sapi yang mati akibat PMK tahun ini jauh lebih banyak dibandingkan tahun lalu. “Pada tahun 2023, tidak ada sapi yang mati akibat PMK, sedangkan pada tahun 2022 tercatat ada 400 ekor sapi yang tewas. “Untuk kapanewon yang berpotensi adanya penambahan kasus PMKada kapanewon Imogiri, Pleret dan Kretek,” tuturnya.

Penyebaran PMK ini menjadi perhatian serius bagi peternak dan masyarakat setempat, mengingat dampaknya yang besar terhadap sektor peternakan. DKPP Bantul terus berupaya untuk meminimalkan dampak wabah ini dengan berbagai langkah antisipasi dan penanganan yang cepat.

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*