Pelestarian Musik Populer dan Tradisi Indonesia: FGD Galeri Lokananta Solo Bahas Arsip dan Digitalisasi Musik

Lokananta menyelenggarakan rangkaian seri Focus Group Discussion pertama yang akan mengupas perjalanan arsip musik Indonesia
Lokananta menyelenggarakan rangkaian seri Focus Group Discussion pertama yang akan mengupas perjalanan arsip musik Indonesia (Lokananta)

Pelestarian Musik Populer dan Tradisi Indonesia: FGD Galeri Lokananta Solo Bahas Arsip dan Digitalisasi Musik

JoSS, SOLO – Galeri Lokananta Solo menggelar Forum Group Discussion (FGD) dengan tema “Melestarikan dan Menghidupkan Arsip Musik Populer serta Musik Tradisi Indonesia” di studio setempat, Rabu (22/1/2025). Acara ini bertujuan untuk mengumpulkan aspirasi terkait pelestarian musik populer dan tradisi Indonesia, yang tidak hanya cukup dengan pengarsipan, tetapi juga perlu dihidupkan, didigitalkan, dan disesuaikan dengan perkembangan zaman agar tetap relevan bagi generasi mendatang.

FGD tersebut dihadiri oleh dua narasumber utama, yaitu General Manager Irama Nusantara, Gerry Apriyan, dan akademisi Adit Adhiyatmaka. Acara ini dipandu oleh akademisi dan penulis, Erie Setyawan.

Gerry Apriyan, yang mewakili Irama Nusantara, menjelaskan bahwa sejak 2013, organisasi nirlaba tersebut telah berhasil mengarsipkan dan mendokumentasikan lebih dari 8.260 rilisan musik, baik dalam bentuk piringan hitam maupun kaset. Irama Nusantara fokus pada pengumpulan, pendigitalan, dan penyediaan akses terhadap rekaman musik Indonesia dari berbagai era, mulai tahun 1920-an hingga 2000-an.

Namun, meskipun sudah ribuan rilisan berhasil diarsipkan dan dapat diakses oleh publik melalui situs iramanusantara.org, Gerry mengungkapkan masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Tantangan terbesar termasuk keterbatasan dana dan upaya membangun ekosistem arsip musik yang lebih baik. Ia menekankan pentingnya menghidupkan arsip tersebut dengan berbagai cara, seperti melalui film, pameran, dan kegiatan lainnya.

“Arsip itu penting, namun lebih dari itu perlu diaktivasikan dengan beragam upaya sehingga terbentuk ekosistem yang bagus. Misalnya pemanfaatan musik populer lewat film, pameran, atau yang lainnya,” katanya.

Gerry juga menyebutkan bahwa selain Irama Nusantara, ada sejumlah komunitas dan organisasi lain yang juga berperan dalam pengarsipan musik, di antaranya Galeri Malang Bernyanyi, Arsip Jazz Indonesia, Galeri Lokananta Solo, dan Swara Gembira. Semua upaya ini diharapkan dapat mengurangi jurang informasi yang selama ini ada.

Sementara itu, Adit Adhiyatmaka menyoroti pentingnya arsip musik dalam membangun warisan budaya. Ia mengungkapkan bahwa mengarsipkan musik bukanlah pekerjaan yang mudah. Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana mengkomunikasikan sejarah budaya musik populer dengan cara yang menarik dan bermakna bagi generasi masa kini. Untuk itu, pengarsipan musik harus disertai dengan narasi yang dapat menyampaikan pengalaman dan pemahaman tentang masa lalu.

“Mengomunikasi sejarah budaya musik populer itu merupakan tantangan. Karena pegiat arsip musik perlu menghasilkan narasi kesejarahan berupa pengalaman dan pemahaman tentang masa lalu [musik] agar bisa diterima dan memberi makna bagi pengunjung masa kini, jelasnya.

Beberapa peserta FGD juga memberikan gagasan dan masukan terkait pelestarian arsip musik. Mereka menyarankan agar Lokananta melakukan upaya lebih agar arsip musik yang telah terdokumentasi bisa dinikmati oleh publik, seperti mengadakan event hearing session musik populer lawas, pameran berbasis teknologi terbaru, hingga memanfaatkan musik lawas untuk film.

Wendi Putranto, CEO Galeri Lokananta Solo, menambahkan bahwa FGD ini bertujuan untuk menyerap aspirasi serta memberikan masukan yang konstruktif bagi perkembangan Lokananta ke depan. Ia berharap, Museum Lokananta yang menyimpan berbagai arsip musik bersejarah tidak hanya menjadi tempat statis, tetapi bisa menjadi destinasi yang menarik bagi masyarakat, khususnya generasi muda, dan menjadi landmark Kota Solo.

Sejak awal 2024 hingga awal 2025, koleksi arsip audio di Lokananta telah berkembang pesat. Saat ini, Lokananta menyimpan 5.620 master recording reels, 46.635 piringan hitam, 391 album kaset, 3.028 lagu, dan 121 arsip pidato tokoh-tokoh besar, yang semuanya menjadi bagian dari warisan budaya musik Indonesia yang patut dilestarikan.

Dengan adanya FGD ini, diharapkan semakin banyak pihak yang terlibat dalam upaya pelestarian musik Indonesia, sehingga budaya musik yang kaya dan beragam dapat terus hidup dan menjadi kebanggaan bangsa.

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*