Membangun Masa Depan Bangsa dengan Pendidikan Politik

Oleh: Mohammad Saleh., S.T, M.En, Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah

Membangun Masa Depan Bangsa dengan Pendidikan Politik

PANDANGAN bahwa kaum muda kita khususnya Gen Z dan Milenial tidak tertarik dunia politik, apatis, nampaknya harus diluruskan. Berbagai survei tentang pertisipasi pemilih muda pada pesta demokrasi khususnya Pemilu 2024 cukup signifikan. Selain populasinya dominan, partisipasi pemilih muda juga sangat menentukan.

Mengacu data pemilih Pemilu 2024, dari 204.807.222 pemilih yang tercatat, sebanyak 113.622.550 pemilih atau sekitar 55%-nya adalah kaum muda. Mereka adalah Gen Z, kelompok usia yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012; dan Gen Y atau kelompok Milenial, sebutan untuk mereka yang lahir pada tahun 1981 hingga 1996. Besarnya pemilih muda pada Pemilu 2024 adalah realitas bahwa suara kaum muda kita menjadi penentu arah pembangunan bangsa.

Menarik untuk dicatat fakta bahwa besarnya jumlah pemilih muda ternyata diikuti tingkat partisipasi pemilih yang signifikan. Di tengah isu yang kurang sedap, pada Pilpres 2024 tingkat partisipasinya bisa mencapai 81,78 persen, selisih sedikit dengan Pilpres 2019 yang Tingkat partisipasinya 81,9 persen, dan berbeda signifikan dengan Tingkat partisipasi pada Pilpres 2014 besarnya 69,6 persen. Artinya, partisipasi pemilih tidak merosot meski porsi pemilih muda naik secara signifikan.

Yang lebih menggembirakan lagi, jika membaca hasil survei yang dilakukan Katadata Insight Center (KIC) terhadap anak muda Indonesia. Melalui survei yang dilakukan secara online pada 11-17 Oktober 2023 terhadap 1.005 responden diperoleh hasil 59,8 persen anak muda Indonesia mengaku tertarik dengan dunia politik. Proporsi yang tertarik politik lebih dominan meski ada dari 35,7% tidak tertarik, dan 4,5% sangat tidak tertarik pada politik.

Jika melihat data di atas, terasa ada persepsi yang tidak pas terkait partisipasi kaum muda dalam politik nasional. Terkesan ada upaya membangun wacana di ruang publik kita bahwa anak muda tidak peduli, bahkan apatis, terhadap dunia politik. Padahal data di atas memperlihatkan hal yang sebaliknya.

Partisipasi kaum muda pada pesta demokrasi kita juga makin jelas jika kita melihat begitu banyaknya kaum muda yang ikut dalam kepanitiaan di TPS (Tempat Pemungutan Suara), sebagai saksi, sampai pada pengawas dan pelaksana Pemilu di berbagai jenjang kewilayahan.  Partisipasi konkrit kaum muda dalam penyelenggaraan pemilu ad hoc menjadi afirmasi terhadap komitmen politik dan pemahaman politik kaum muda.

Sebagai orang yang berkhidmat di bidang politik, penulis melihat urgensi untuk menjaga dan meningkatkan ketertarikan kaum muda di ranah poitik melalui model pendidikan politik yang relevan dengan dinamika kaum muda. Relevansi di sini bukan hanya mencakup tema-tema edukasi politik saja, namun harus mencakup relevansi dengan medium pendidikan politik yang dipakai.

Dinamika kaum muda yang sangat tinggi, juga perubahan teknologi komunikasi yang begitu cepat, harus menjadi pertimbangan penting bagaimana pendidikan politik kaum muda harus dilakukan. Muatan pendidikan politik melalui sekolah dan universitas pun perlu direnungkan lagi, jangan sampai terjadi apa yang diajarkan di lembaga pendidikan adalah materi yang sudah tidak relevan dengan dunia nyata. Sudah ketinggalan zaman, out of date.

Bagaimanapun, pengetahuan dan pemahaman politik masyarakat adalah dasar penting membentuk masa depan yang lebih baik. Untuk mewujudkannya perlu secara terus menerus dibangun kesadaran akan hak dan kewajiban warga negara, dijaga partisipasi demokratisnya, dan dikembangkan sikap kritisnya.

Memang sekarang ini sudah banyak sumber literasi yang tersedia di ruang digital. Banyak podcast dan konten politik yang layak dijadikan rujukan pembelajaran. Namun pendidikan politik tak cukup hanya dilakukan dengan memberikan literasi semata, tapi perlu dilatih melalui komunitas dengan kegiatan diskusi, debat dan interaksi dengan pelaku politik dan birokrasi agar pemahamannya lebih merasuk dan konkrit.

Perlu disadarai, sekarang ini politik mempengaruhi semua ruang sektoral. Karenanya, supaya jati diri kaum muda tetap berbasis pada tujuan dan cita-cita bernegara, menjadikan sejarah sebagai bagian dari wacana pendidikan politik adalah sebuah keniscayaan. Kaum muda harus terus diingatkan, masa depan ada di tangan mereka.

Kemana arah masa depan bangs aini, semuanya ada di tangan mereka. Para senior memiliki kewajiban moral untuk mendorong agar kaum muda memiliki kesadaran dan pemahaman politik yang maksimal dan relevan dengan zamannya. Karena kita sudah sepakat, melalui partisipasi politiklah perwujudan cita-cita bersama bisa diwujudkan. (***)

 

 

Membangun Masa Depan Bangsa dengan Pendidikan Politik

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Baca Juga: Mohammad Saleh: DPRD Jateng Menawarkan Harapan Baru untuk Memajukan Masyarakat

Baca Juga:  DPRD Jateng Dukung Rencana Pembukaan Jalur Penerbangan ke Karimunjawa pada 2025

Baca Juga:  Mohammad Saleh: Permasalahan Sampah Kita Selesaikan Mulai dari Desa

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*