Dispangtan Solo Lakukan Sidak ke Peternakan Sapi untuk Cegah Penyebaran PMK

Petugas kesehatan hewan Dispangtan Solo mengecek kondisi sapi yang sebelumnya terjangkit PMK di peternakan milik warga Mertoudan, Mojosongo, Jebres, Solo, pada Rabu (7/1/2025). (Solopos/Ahmad Kurnia Sidik)
Petugas kesehatan hewan Dispangtan Solo mengecek kondisi sapi yang sebelumnya terjangkit PMK di peternakan milik warga Mertoudan, Mojosongo, Jebres, Solo, pada Rabu (7/1/2025). (Solopos/Ahmad Kurnia Sidik)

Dispangtan Solo Lakukan Sidak Peternakan Sapi untuk Cegah Penyebaran PMK dan Pastikan Keamanan Konsumsi Daging

JoSS, SOLO – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Solo melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sejumlah peternakan sapi milik warga, Rabu (8/1/2025), untuk memantau penanganan terhadap penyakit mulut dan kuku (PMK) yang dikhawatirkan menyebar di daerah tersebut. Salah satu peternakan yang disidak berada di Mertoudan, Mojosongo, Jebres, Solo, yang baru-baru ini melaporkan ada sapi yang terjangkit PMK.

Dalam sidak tersebut, petugas Dispangtan memeriksa kesehatan dua ekor sapi yang pada pekan sebelumnya dilaporkan terinfeksi PMK. Pemeriksaan dilakukan dengan mengecek kondisi tubuh sapi dan memberikan pengobatan lanjutan. Selain itu, petugas juga memeriksa kondisi kandang untuk memastikan kebersihan dan keamanannya bagi ternak.

Kepala Bidang Veteriner Dispangtan Solo, Agus Sasmito, menyebutkan bahwa hingga saat ini terdapat lima sapi di Solo yang dilaporkan terjangkit PMK. “Lima sapi itu [yang terserang PMK dan] yang dilaporkan ke kami. Bisa jadi ada lainnya yang belum terlaporkan atau sudah ditangani secara mandiri oleh pemilik ternak,” ujar Agus kepada awak media.

Agus juga mengungkapkan bahwa data populasi sapi di Solo tercatat sekitar 308 ekor yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Jebres, Banjarsari, dan Laweyan. “Populasi terbanyak di Kecamatan Jebres” tambahnya.

Menurut Agus, penyebaran PMK di Solo kemungkinan dipicu oleh penurunan kondisi kesehatan sapi yang bersamaan dengan lalu lintas perdagangan sapi dari luar daerah. Lima sapi yang terjangkit PMK itu mulai menunjukkan gejala seperti tidak mau makan dan tubuh yang lemas.

“Sapi-sapi yang terjangkit PMK ini awalnya dilaporkan tidak mau makan dan badannya lemas. Kami sudah beri pengobatan pertama sejak awal laporan itu pada pekan lalu. Ini adalah yang kedua. Sudah terlihat ada perkembangan ke arah lebih baik, tidak seperti saat pertama kami tangani,” ungkapnya.

Sebagai langkah pencegahan lebih lanjut, Dispangtan Solo mengintensifkan pengawasan terhadap kesehatan hewan ternak, khususnya sapi yang masuk ke Solo, termasuk yang akan dipotong di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Jagalan. Selain itu, pihak Dispangtan juga membagikan disinfektan untuk perawatan kandang agar terjaga kebersihannya dan memastikan kesehatan hewan yang ada di pasar hewan maupun peternakan.

Keamanan Konsumsi Daging Sapi Mengenai kekhawatiran masyarakat terkait konsumsi daging sapi yang terpapar PMK, Agus menegaskan bahwa PMK bukanlah penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang bisa menular antara hewan dan manusia. Oleh karena itu, daging sapi yang terjangkit PMK tetap aman untuk dikonsumsi, dengan catatan bagian tubuh yang terkena PMK, seperti mulut, lidah, dan tulang yang terinfeksi, harus dibuang dan dikubur. Sedangkan bagian jerohan masih bisa dikonsumsi setelah direbus terlebih dahulu.

“Dengan catatan bagian yang terjangkit PMK harus diperlakukan secara khusus, seperti misalnya mulut, lidah, dan tulang yang terkena PMK harus dibuang dan dikubur, jangan dikonsumsi. Sementara bagian jerohan tetap bisa dikonsumsi dengan terlebih dahulu direbus,” jelas Agus.

Salah satu peternak, Samidi, yang dikunjungi oleh tim Dispangtan Solo, mengungkapkan rasa syukurnya karena sapi yang sempat terinfeksi PMK kini telah pulih setelah mendapat perawatan dari Dispangtan. “Sekarang sudah [sapinya] segar kembali, sudah mau makan banyak,” ujarnya.

Samidi menceritakan bahwa ia pertama kali menyadari ada yang tidak beres pada sapi miliknya karena sapi terlihat lemas dan pincang. Setelah diperiksa, ia menemukan adanya nanah di kuku sapi dan kondisi mulut yang penuh dengan air liur. Samidi pun segera melaporkan gejala tersebut kepada Dispangtan, yang langsung memberikan penanganan. “Gejalanya itu muncul pertama sekitar dua minggu lalu. Tapi sekarang sudah membaik,” tandasnya.

Masyarakat Diminta Tetap Tenang Dispangtan Solo mengimbau agar masyarakat tidak khawatir berlebihan mengenai wabah PMK. Pihaknya telah melakukan vaksinasi terhadap hewan ternak, termasuk sapi, untuk mengurangi tingkat keparahan penyakit tersebut. Dengan langkah-langkah pencegahan yang ketat, diharapkan penyebaran PMK dapat dikendalikan dan tidak berdampak signifikan terhadap populasi ternak serta konsumsi daging sapi di Solo.

 

 

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Dispangtan Solo Lakukan Sidak ke Peternakan Sapi untuk Cegah Penyebaran PMK

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*