Wotawati: Dusun Unik di Lembah Bengawan Solo Purba Akan Jadi Desa Wisata Yogyakarta

Dusun Wotawati, sebuah dusun terpencil yang terletak di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta (Dokumentasi Humas Pemprov DIY)
Dusun Wotawati, sebuah dusun terpencil yang terletak di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta (Dokumentasi Humas Pemprov DIY)

Wotawati, Dusun Unik di Lembah Bengawan Solo Purba yang Akan Menjadi Desa Wisata

JoSS, JOGJA – Dusun Wotawati, sebuah dusun terpencil yang terletak di Kalurahan Pucung, Kapanewon Girisubo, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, mulai menarik perhatian sejak beberapa tahun lalu. Dusun yang berjarak sekitar 74 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta ini sedang dalam proses pengembangan untuk menjadi desa wisata yang menyuguhkan keindahan alam serta nilai sejarah yang kaya. Dengan letak yang unik di lembah yang terbentuk oleh aliran Sungai Bengawan Solo Purba, Wotawati memiliki pesona alam dan budaya yang sangat potensial untuk dikembangkan.

Salah satu keunikan yang dimiliki Dusun Wotawati adalah fenomena matahari terbit yang lebih lambat dibandingkan daerah lain, akibat letaknya yang berada di lembah dan minimnya paparan sinar matahari. Hal ini menciptakan suasana yang sejuk dan berbeda dari daerah lainnya, menjadikan dusun ini sebagai tempat yang ideal untuk dijadikan destinasi wisata.

Tidak hanya memiliki keunikan geografis, Wotawati juga memiliki potensi budaya yang menarik. Desa ini tengah dipersiapkan untuk menjadi kawasan terpadu desa wisata dengan konsep arsitektur bergaya kerajaan Majapahit dan Mataram. Tata letak desa yang berada di kawasan lembah dengan jalan-jalan yang saling terhubung menyerupai labirin, menjadi daya tarik tersendiri. Menurut Lurah Pucung, Estu Dwiyono, jalan-jalan tersebut awalnya adalah saluran drainase yang dimanfaatkan oleh penduduk untuk mencegah banjir, namun kini menjadi bagian dari keunikan pemukiman di Wotawati.

Estu menyatakan, meski Wotawati terletak di lembah yang sulit dijangkau, desa ini memiliki potensi besar baik di sektor pertanian maupun pariwisata. Dengan mayoritas penduduknya yang bekerja di sektor pertanian, pembangunan desa wisata ini tidak akan mengubah mata pencaharian utama masyarakat, tetapi justru memberikan peluang ekonomi tambahan melalui sektor pariwisata.

Pada 2023, Wotawati mendapatkan alokasi Dana Keistimewaan (Danais) sebesar Rp5 miliar untuk pembangunan kawasan terpadu. Dana ini digunakan untuk pembangunan infrastruktur seperti pagar, pendopo, dan fasad rumah dengan desain akulturasi antara Majapahit dan Mataram. Pembangunan ini diperkirakan akan berlangsung selama tiga tahun, dengan tahun pertama fokus pada penyusunan dokumen dan pembangunan fisik dasar, tahun kedua akan dilanjutkan dengan pembangunan fasad rumah, dan tahun ketiga pada tahap finishing dan penataan fasilitas wisata.

Dukuh Wotawati, Roby Sugihastanto, juga menceritakan sejarah asal-usul nama Wotawati. Berdasarkan cerita dari sesepuh setempat, nama Wotawati berasal dari sebuah kisah tentang dua pelarian dari Kerajaan Majapahit, Raden Joko Sukmo dan Nyi Arum Sukmawati, yang menemukan tempat ini. Konon, mereka pertama kali melintasi sungai dengan menggunakan wot bambu sebagai jembatan penyeberangan. Dalam perjalanan itu, Nyi Arum Sukmawati hampir terjatuh, dan setelah berhasil diselamatkan, ia berkata bahwa tempat ini kelak akan menjadi “Padukuhan Wotawati”, yang diambil dari kata “wot” (penyeberangan) dan “Sukmawati” (nama pelarian).

Saat ini, Padukuhan Wotawati sudah berusia sekitar 200 tahun, dan pada tahun 2026 mendatang, kawasan ini akan menawarkan berbagai paket wisata. Wisatawan dapat menikmati aktivitas seperti menyusuri perkampungan dengan gaya arsitektur Majapahit dan Mataram, bercocok tanam bersama petani lokal, serta menjelajahi kawasan sekitar seperti Pantai Ngungap dan Lembah Ngungap. Wisatawan juga bisa menginap di rumah-rumah warga yang disulap menjadi homestay, yang memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat setempat.

Dengan potensi alam, budaya, dan sejarah yang dimilikinya, Dusun Wotawati siap menjadi destinasi wisata yang menarik dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Seiring dengan perkembangan desa wisata ini, Wotawati diharapkan dapat menjadi model desa wisata yang mengedepankan pelestarian budaya, kearifan lokal, dan keberlanjutan ekonomi.

 

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*