
JoSS, SEMARANG – Kota Lama Semarang semakin menunjukkan perkembangan melalui proyek revitalisasi yang terus berlanjut, salah satunya adalah pembaruan di Jalan Kampung Sleko. Dengan desain estetik yang lebih rapi dan penataan yang lebih baik, kawasan ini kini siap menjadi salah satu destinasi wisata unggulan yang nyaman bagi pengunjung.
Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, yang lebih akrab disapa Mbak Ita, mengungkapkan kebanggaannya atas kemajuan revitalisasi Jalan Kampung Sleko yang dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Tengah, Direktorat Jenderal Cipta Karya.
“Penataan ini menunjukkan komitmen kita bersama untuk melestarikan warisan budaya Kota Lama Kota Semarang. Terlebih di Jalan Kampung Sleko itu ada Menara Syahbandar, di pinggir Kali Semarang. Tentunya semakin komplet dan menarik untuk wisatawan,” ujar Mbak Ita.
Revitalisasi Jalan Kampung Sleko kini menghadirkan sejumlah fasilitas baru yang akan meningkatkan kenyamanan pengunjung. Fasilitas tersebut meliputi plaza promenade yang luas, jalur pedestrian yang ramah bagi pejalan kaki, penerangan lampu modern yang menjadikan suasana lebih nyaman, serta fasilitas umum seperti musala, kursi taman, toilet, dan penghijauan yang semakin mempercantik kawasan tersebut.
Eko, salah satu perwakilan dari Kementerian PU, menjelaskan bahwa penataan ini bukan hanya untuk memperindah tampilan, tetapi juga untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung yang datang ke sana.
“Di sini kini ada plaza promenade, pedestrian yang ramah pejalan kaki, penerangan lampu modern, musala, kursi taman, toilet, hingga penghijauan yang memperindah kawasan,” terang Eko, dari Kementerian PU. Penataan ini, lanjutnya tidak hanya mempercantik lingkungan, tetapi juga memberikan kenyamanan lebih bagi wisatawan.
Jalan Kampung Sleko memiliki nilai sejarah yang tak kalah penting. Terletak di tepi Kali Semarang, jalan ini merupakan bagian dari situs budaya yang sudah selesai direvitalisasi, yaitu Cagar Budaya Menara Syahbandar. Menara yang dibangun pada tahun 1825 ini memiliki sejarah panjang sebagai alat pengatur lalu lintas kapal dan perahu di Kali Semarang pada masa kolonial. Kini, Menara Syahbandar menjadi salah satu daya tarik wisata sejarah yang wajib dikunjungi.
Mbak Ita juga menyebutkan bahwa revitalisasi Kampung Sleko ini merupakan upaya untuk menghidupkan kembali potensi Kali Semarang sebagai salah satu sungai bersejarah yang ada di Kota Semarang.
Sekretaris BP2KL, Nik Sutiyani, juga turut memberikan penjelasan mengenai revitalisasi Jalan Kampung Sleko ini. Menurutnya, proyek ini merupakan bentuk apresiasi terhadap pelestarian berkelanjutan dari Kementerian PU kepada Kota Semarang, yang dianggap memiliki komitmen kuat dalam merawat warisan budaya Kota Lama.
Revitalisasi ini juga melengkapi segmen-segmen lainnya yang sempat tertunda karena masalah pembebasan lahan. “Kini progresnya sudah selesai secara fisik. Kami sudah dapat laporan dari Kementerian PU, tetapi memang belum diresmikan,” ujar Nik Sutiyani.
Keindahan baru yang ditawarkan oleh Jalan Kampung Sleko diharapkan akan menjadi daya tarik baru bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Lama Semarang. Penataan ini diharapkan tidak hanya mempercantik kawasan, tetapi juga memberikan dampak positif secara ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dengan revitalisasi ini, potensi wisata di sekitar Kali Semarang dan Kota Lama Semarang akan semakin hidup dan menarik minat lebih banyak pengunjung.
Revitalisasi Jalan Kampung Sleko merupakan langkah penting dalam melestarikan sejarah sekaligus membuka peluang baru untuk pengembangan pariwisata di Semarang. Di masa mendatang, kawasan ini diharapkan menjadi salah satu destinasi wisata utama yang dapat mendukung perekonomian lokal sekaligus memperkenalkan warisan budaya Semarang kepada dunia.

Leave a Reply