Maksimalkan Pengelolaan Sampah Organik dengan Metode Biopori

Ilustrasi, Metode Pengelolaan Sampah Organik Biopori
Ilustrasi, Metode Pengelolaan Sampah Organik Biopori

Pemkot Yogyakarta Dorong Pengelolaan Sampah Organik dengan Metode Biopori, Libatkan Forum Bank Sampah

JoSS, JOGJA – Pemerintah Kota Yogyakarta, melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), menggandeng Forum Bank Sampah (FBS) dan perwakilan bank sampah dari seluruh wilayah kota untuk memanfaatkan metode biopori. Langkah ini ditujukan sebagai solusi praktis dalam pengelolaan sampah organik, terutama di area dengan keterbatasan lahan.

Pada tahun 2024, Pemkot Yogyakarta mendapatkan alokasi Dana Keistimewaan (Danais) yang disalurkan ke 45 kelurahan. Dana tersebut difokuskan untuk program edukasi dan pelatihan pembuatan kompos rumah tangga menggunakan teknik biopori. Program ini telah berjalan sejak Juli 2024 dengan pemasangan biopori secara serentak di berbagai lokasi. Hingga kini, DLH mencatat sebanyak 29.160 lubang biopori telah terpasang, dan jumlah ini diperkirakan terus bertambah seiring proses pendataan yang masih berlangsung.

DLH Yogyakarta terus memantau keberlanjutan program ini, termasuk melakukan evaluasi dan koordinasi dengan para penerima manfaat di 45 kelurahan. Plt. Bidang Pengembangan Kapasitas dan Pengawasan Lingkungan Hidup DLH Kota Yogyakarta, Lusiningsih, menjelaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk memastikan pemanfaatan biopori dilakukan secara optimal.

“Kami terus memantau dan melakukan evaluasi dan koordinasi. Sehingga akan menghasilkan data-data yang valid. Selain itu, alat peraga yang diberikan dapat ditindaklanjuti dan dimanfaatkan secara maksimal baik Forum Bank Sampah (FBS) maupun Bank Sampah yang ada di wilayah,” ujar Lusiningsih, Senin (18/11).

Ia menambahkan bahwa DLH akan melanjutkan program sosialisasi dan edukasi, terutama bagi FBS dan 689 bank sampah yang tersebar di Kota Yogyakarta. Edukasi ini meliputi cara pembuatan biopori hingga manfaatnya bagi lingkungan, dengan tujuan mempercepat penerapan metode ini di tingkat rumah tangga.

“Kami berharap komunikasi antara FBS, bank sampah, dan pemerintah semakin intensif, sehingga masalah kelembagaan yang ada dapat diatasi bersama,” tambahnya.

Ketua Sampah Gempita Kelurahan Suryatmajan, Lucy Okyta Purba, mengapresiasi inisiatif pemerintah melalui program Danais 2024. Menurutnya, biopori menjadi langkah efektif untuk memperluas peran bank sampah, tidak hanya dalam pengelolaan sampah organik tetapi juga membantu bank sampah lain yang mengalami kendala dalam penerapan biopori.

Lucy menambahkan, meski lahan di Kota Yogyakarta terbatas, metode biopori tetap mudah diterapkan di halaman rumah atau area permukiman padat. Ia optimis program ini mampu mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke depo.

Lucy juga berharap warga semakin sadar untuk memanfaatkan biopori sebagai solusi pengelolaan sampah organik, sementara sampah anorganik bisa disetorkan ke bank sampah. Dengan demikian, lingkungan yang bersih dan sehat dapat tercipta di Kota Yogyakarta.

Langkah ini diharapkan menjadi alternatif yang efektif untuk menekan volume sampah di Kota Yogyakarta. Dinas Lingkungan Hidup optimis bahwa penerapan metode biopori tidak hanya membantu pengelolaan sampah organik tetapi juga mendorong kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan secara berkelanjutan. Melalui sinergi antara pemerintah, bank sampah, dan warga, Kota Yogyakarta dapat mewujudkan lingkungan yang lebih hijau dan sehat.

 

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*