
JoSS, SEMARANG – Kota Semarang terus mengembangkan langkah inovatif dalam pengelolaan sampah organik melalui kemitraan strategis dengan Pusat Pendidikan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) Svarnaloka, Dengan konsep sirkular yang berkelanjutan, P4S Svarnaloka menjadi pusat pelatihan dan fasilitas pengembangan berbagai bidang agribisnis, seperti budidaya maggot, melon, anggrek, hidroponik, hingga pertanian terpadu (integrated farming).
Menurut Pratomo, pengelola P4S Svarnaloka, pembudidayaan Black Soldier Fly (BSF) atau maggot menjadi fokus utama dalam menangani limbah organik. “Maggot dapat mengubah limbah organik menjadi pakan ternak berkualitas tinggi. Model pengelolaan rumah maggot ini sudah dikembangkan oleh P4S Svarnaloka dan harapannya dapat direplikasi rumah maggot di berbagai wilayah berskala perumahan, RT dan RW,” jelas Pratomo.
Program ini telah diuji coba di Pasar Gunungpati. Limbah makanan dikumpulkan oleh relawan untuk kemudian diberikan kepada maggot. Setelah maggot tumbuh, mereka dipanen, dikeringkan, dan dijadikan pakan ternak.
Svarnaloka juga membuka fasilitas agribisnis gratis bagi 28 tenant yang mencakup lahan, listrik, air, dan infrastruktur lainnya. Produksi maggot di lokasi ini mencapai 80-120 kilogram maggot basah per minggu, yang setelah dikeringkan menghasilkan sekitar 20-40% dari berat awal. Produk maggot kering ini telah dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk pakan ternak dan budidaya unggas.
Selain itu, Svarnaloka memberikan pelatihan agribisnis kepada masyarakat serta menawarkan area edukasi pertanian (edu farm). “Kami ingin menciptakan kawasan ekonomi khusus berbasis desa yang tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga memberikan manfaat edukasi dan rekreasi,” tambah Pratomo.
Program ini mendapat dukungan penuh dari Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang. Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, mengungkapkan keprihatinannya terhadap limbah organik rumah tangga dan pasar yang sering tidak dikelola dengan baik. “Sampah organik ini, jika tidak dikelola dengan baik, hanya akan menjadi sumber penyakit seperti tikus dan kecoa. Namun, melalui maggot, limbah ini dapat diubah menjadi sesuatu yang bernilai,,” ujar wali kota yang akrab disapa Mbak Ita.
Kolaborasi ini bertujuan mengintegrasikan pengelolaan sampah organik dan non-organik berbasis komunitas dengan memanfaatkan rumah maggot dan Pusat Inkubasi dan Latihan Agribisnis (PILAR). Di Gunungpati, program PILAR mendukung pengembangan sentra produksi agribisnis, peternakan, perikanan, serta home industry dan UMKM.
Pemkot Semarang berharap program ini menjadi solusi pengelolaan sampah berkelanjutan dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui inovasi berbasis lingkungan. Rencana ke depan melibatkan lebih banyak pasar, sekolah, dan komunitas lokal dalam program maggot ini.
Harapannya, pengolahan sampah dapat dimulai di tingkat rumah tangga, sekaligus membuka peluang ekonomi melalui penjualan maggot basah dan kering. Dengan optimisme yang tinggi, program ini diharapkan mampu menciptakan Semarang sebagai kota tanpa limbah (zero waste) melalui pemberdayaan masyarakat.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS
Budidaya Maggot: Inovasi Pengelolaan Sampah Organik Kota Semarang

Leave a Reply