JoSS, SOLO — Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyoroti tiga tantangan utama yang dihadapi Indonesia, dan negara-negara lain, dalam menciptakan lapangan kerja di masa depan. Hal ini disampaikan saat membuka Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia XXII dan Seminar Nasional 2024 di Surakarta. Jokowi menegaskan pentingnya penciptaan lapangan kerja untuk menghadapi bonus demografi yang diprediksi akan mencapai puncaknya pada 2030.
Jokowi menggarisbawahi bahwa tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah perlambatan ekonomi global, yang berdampak pada upaya menciptakan lapangan kerja. “Padahal saat ini untuk membuka lapangan kerja kita menghadapi tantangan yang berat. Semua negara menghadapi tantangan ini,” ujar Jokowi.
Tantangan Pertama: Perlambatan Ekonomi Global
Jokowi menjelaskan bahwa Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia hanya mencapai 2,7% pada 2023, 2,6% pada 2024, dan 2,7% pada 2025. Angka ini jauh dari harapan banyak negara. Namun, Jokowi menambahkan, Indonesia patut bersyukur karena masih mampu mencatatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,1%, jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global.
Di sisi lain, banyak negara telah memperketat kebijakan moneternya untuk mengendalikan laju inflasi, yang menurut Jokowi dapat mengurangi kapasitas produksi industri dan perdagangan global. “Artinya apa kalau moneter di rem? artinya industri pasti akan turun produksinya. otomatis. Perdagangan global juga akan turun kapasitasnya. Jadi yang pertama perlambatan ekonomi global tantangan kita di situ,” ujarnya.
Tantangan Kedua: Otomasi dan Teknologi
Selain tantangan ekonomi, kemajuan teknologi dan otomasi di berbagai sektor juga menjadi faktor penting yang mempengaruhi penciptaan lapangan kerja. Jokowi memperingatkan bahwa otomasi dan kecerdasan buatan (AI) dapat menghilangkan banyak pekerjaan. “Muncul AI, muncul otomasi analytic. Setiap hari muncul hal-hal baru, dan kalau kita baca 2025 pekerjaan yang hilang itu ada 85 juta. pekerjaan akan hilang 85 juta, sebuah jumlah yang tidak kecil. Kita dituntut membuka lapangan kerja, justru di 2025, ada 85 juta pekerjaan akan hilang, karena tadi adanya peningkatan otomasi di berbagai sektor,” jelasnya.
Tantangan Ketiga: Gig Economy
Tantangan ketiga yang disoroti adalah tren gig economy atau ekonomi berbasis pekerjaan serabutan, di mana perusahaan lebih memilih pekerja lepas atau kontrak jangka pendek untuk mengurangi risiko ketidakpastian ekonomi global. Perusahaan kini lebih memilih pekerja independen seperti freelancer atau kontrak jangka pendek. Ini akan semakin mengurangi kesempatan kerja bagi banyak orang.
“Ini trennya kita lihat menuju ke sana. Dan yang bekerja itu bisa bekerja di sini bekerja di negara lain. Sehingga sekali lagi kesempatan kerja semakin semakin berkurang,” kata Jokowi.
Melihat tantangan-tantangan tersebut, Jokowi meminta Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) untuk memberikan strategi taktis dalam menghadapi situasi tersebut. “Rencana taktis, strategi tapi strategi taktis yang detail, kalau ada ini kita harus belok kemana, kalau di cegat di sini kita harus menuju kemana itu hal-hal taktis seperti ini yang kita perlukan. Bukan rencana makro yang sulit diimplementasikan dalam situasi yang suli,” tuturnya.
Dengan bonus demografi yang mendekat, Jokowi menegaskan pentingnya menyiapkan strategi matang agar Indonesia dapat memanfaatkan peluang ini secara maksimal.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS

Leave a Reply