Yogyakarta Selenggarakan Forum Desentralisasi Asimetris Indonesia: Ajang Perkenalan Kearifan Lokal dan Budaya

Yogyakarta Selenggarakan Forum Desentralisasi Asimetris Indonesia: Ajang Perkenalan Kearifan Lokal dan Budaya
Yogyakarta menjadi tuan rumah penyelenggaraan Forum Desentralisasi Asimetris Indonesia (Fordasi) yang berlangsung selama empat hari, mulai dari Senin (26/08) hingga Kamis (29/08). (Dokumentasi Humas Pemprov DIY)

JoSS, JOGJA – Pada tahun ini, Yogyakarta menjadi tuan rumah penyelenggaraan Forum Desentralisasi Asimetris Indonesia (Fordasi) yang berlangsung selama empat hari, mulai dari Senin (26/08) hingga Kamis (29/08). Fordasi adalah forum nasional yang mengumpulkan daerah-daerah dengan status desentralisasi khusus dan istimewa di Indonesia. Selama forum ini, diadakan berbagai kegiatan seperti pameran UMKM, seminar, dan rapat koordinasi yang bertujuan untuk memperkuat kerjasama dan meningkatkan koordinasi kemitraan yang lebih intensif guna menghadapi tantangan bangsa di masa depan.

Salah satu acara yang menarik perhatian adalah Malam Keakraban Fordasi 2024 yang diadakan di halaman kantor Paniradya Kaistimewan, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, pada Rabu (28/08) malam. Acara ini menjadi ajang bagi anggota Fordasi untuk mempererat hubungan, membangun kepercayaan, serta menjalin kemitraan yang lebih bermakna. Aris Eko Nugroho, Plt. Asisten Sekda DIY Bidang Pemberdayaan Sumber Daya Masyarakat, menyatakan bahwa malam keakraban ini memberikan kesempatan bagi seluruh anggota Fordasi untuk berinteraksi lebih dekat.

Acara ini dihadiri oleh delegasi dari sembilan daerah anggota Fordasi, yaitu DIY, DKI Jakarta, Provinsi Aceh, Provinsi Papua, Provinsi Papua Barat, Provinsi Papua Barat Daya, Provinsi Papua Selatan, Provinsi Papua Pegunungan, dan Provinsi Papua Tengah. Sebagai tuan rumah, DIY memperkenalkan berbagai kearifan lokal dan warisan budaya Yogyakarta melalui beragam hidangan khas Jogja.

Hidangan yang disajikan meliputi gudeg, sate klathak, mie lethek, serta berbagai jajanan tradisional seperti kipo. Minuman khas seperti wedang ronde dan angkringan Jogja Kopi Joss juga turut dihidangkan, menambah kesan tradisional dalam suasana malam tersebut. Alunan musik dari Pongki Barata The Dangerous Band semakin menyemarakkan suasana, menciptakan atmosfer keakraban yang hangat.

Sate Klathak dan Mie Lethek yang disajikan dalam acara ini bukan sekadar makanan biasa, keduanya telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari DIY. Sate Klathak Mbah Abu dan Mie Lethek Trimurti adalah dua contoh usaha yang pengembangannya didukung oleh BKK Keistimewaan WBTB dan Desa Preneur Diskop UKM DIY melalui danais.

“Malam ini menjadi penuh makna bagi saya, karena dapat bertatap muka dan menyambut hadirin sekalian seraya mengenalkan kearifan lokal dan warisan budaya Yogyakarta. Selamat menikmati hidangan dan hiburan yang ditampilkan dalam sahaja suasana Yogjakarta. Saya percaya acara malam ini dapat menjadi ajang bagi kita untuk mempererat hubungan, membangun kepercayaan, dan menjalin kemitraan yang lebih bermakna,” ungkap Aris dalam sambutannya.

Selain itu, Aris juga memperkenalkan sejarah bangunan Kompleks Kepatihan yang dahulu merupakan Kantor Pepatih Dalam Keraton Yogyakarta, sekaligus tempat tinggal keluarga dan kerabat Keraton. Bangunan ini sejak dulu telah melayani berbagai kepentingan masyarakat.

“Bangunan dan gedung-gedung di dalamnya sedari dulu diperuntukkan untuk melayani berbagai kepentingan masyarakat” jelasnya.

Pada malam itu, delegasi juga menikmati kue bolu kelapa produksi Desa Prima Gumregah, sebuah usaha yang dibina oleh Kalurahan Mandiri Budaya Putat dengan dukungan Dinas Koperasi dan UKM DIY. Kue ini memiliki citarasa gurih yang dominan dan telah mengalami peningkatan penjualan signifikan sejak pertengahan tahun 2022.

Pj. Gubernur Papua Barat, Ali Baham Temongmere, yang hadir dalam acara ini juga memberikan pujian atas kelezatan kue bolu kelapa tersebut. Ali Baham bahkan memesan 1.000 pcs kue bolu untuk dibawa pulang, menunjukkan betapa lezatnya produk lokal yang dihasilkan dari kearifan budaya Yogyakarta.

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*