
JoSS, JOGJA – Tradisi Mubeng Beteng, yang merupakan Warisan Budaya Tak Benda Indonesia dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), kembali digelar oleh Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta dengan dukungan dari Dinas Kebudayaan DIY pada malam Minggu (07/07).
Tradisi ini dilakukan sebagai bagian dari perayaan Tahun Baru Islam atau Tahun Baru Jawa 1 Muharram 1446 H, yang juga menjadi momen untuk introspeksi melalui praktik mubeng beteng, di mana peserta menjalani laku dengan membisu, tanpa banyak berbicara.
Prosesi mubeng beteng dimulai dengan pembacaan tembang Macapat dan doa bersama dari pukul 19.30 hingga 22.00 WIB. Acara dihadiri oleh tamu undangan dan diawali dengan sambutan dari putri sulung Sri Sultan, GKR Mangkubumi, yang tiba di lokasi tepat pukul 23.00 untuk memberikan pengantar sebelum dimulainya mubeng beteng pada pukul 00.00 WIB, ditandai dengan 12 kali bunyi lonceng.
“Saya mengucapkan selamat tahun baru, semoga semuanya mendapatkan berkah. Tradisi mubeng beteng ini sudah masuk WBTb , mari bersama-sama kita lestarikan. Selama mubeng beteng, kita bisa berdoa meminta keselamatan dan berkah sebanyak-banyaknya, mohon doanya juga bagi Ngarso Dalem dan keluarga. Mari bersama-sama dengan tertib melaksanakan mubeng beteng dan diberikan keselamatan sampai selesai acara, ” kata GKR Mangkubumi.
Setidaknya 4 ribu orang, termasuk Abdi Dalem, masyarakat, dan wisatawan, mengikuti prosesi budaya ini dengan khidmat dan dalam suasana sunyi. Peserta mubeng beteng berjalan mengelilingi beteng keraton sejauh kurang lebih 4,5 kilometer, tanpa berbicara dan tanpa alas kaki.
Dian Lakshmi Pratiwi, Kepala Dinas Kebudayaan DIY, menegaskan bahwa mubeng beteng adalah inisiatif masyarakat yang dilakukan oleh Paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta, bukan acara resmi dari Keraton. Tradisi ini memiliki nilai dan makna penting dalam refleksi diri serta doa keselamatan untuk Ngarso Dalem dan seluruh keluarga besar Keraton Yogyakarta serta masyarakat DIY.
” Kita dapat merefleksikan dalam satu tahun belakangan dan satu tahun kedepannya dengan umbul donga supaya diberikan kesehatan, keselamatan bagi keluarga Ngarso Dalem beserta seluruh keluarga besar Keraton Yogyakarta maupun seluruh masyarakat DIY. Tradisi ini sudah diakui di tingkat nasional karena telah ditetapkan sebagai WBTb Indonesia dari DIY,” jelas Dian.
Dilansir dari laman Jogprov.go.i Dian menekankan dengan menjadi WBTb, tradisi mubeng beteng khususnya yang dilakukan paguyuban Abdi Dalem Keraton Yogyakarta kemudian harus dilestarikan terutama nila-nilai dan makna penting untuk selalu merefleksi diri dan memohon doa keselamatan. Meski bukan Hajad Dalem, mubeng beteng ditetapkan sebagai WBTb karena sudah dilakukan masyarakat lebih dari dua dekade atau lebih dari 50 tahun.
“Tradisi Mubeng Beteng tahun ini sama seperti tahun sebelumnya yang pusatnya dilaksanakan di Kagungan Dalem Bangsal Pancaniti atau Kompleks Kamandungan Lor/Keben. Ini atas izin dari Ngarso Dalem (Raja Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X) dengan rangkaian acara pun sama dengan tahun lalu,” kata Penghageng Kawedanan Reksa Suyasa Keraton Yogyakarta, KRT Kusumanegara.
Kusumanegara menyatakan makna mubeng beteng ini pada dasarnya masyarakat Jawa memperingati tahun baru itu dengan kekhusyukan, keheningan dan kekhidmatan berdoa kepada sang pencipta agar tahun ini dan masa datang menjadi lebih baik. Adapun para Abdi Dalem mewujudkannya dengan melakukan tapa bisu mubeng beteng.sambil berdoa sesuai keinginan masing-masing.
Atase Kebudayaan Kedutaan Besar Prancis Charlotte Esnou yang hadir dalam acara tradisi ini mengaku dirinya merasa sangat istimewa dapat menyaksikan langsung acara mubeng beteng. Ia merasa sangat damai dan merasakan adanya energi didalam begitu memasuki gerbang istana.
” Semua orang begitu tenang dan benar-benar berkonsentrasi pada apa yang terjadi dan ada getaran yang indah. Saya merasa harus sangat berhati-hati agar tak mengganggu hal yang sedang terjadi, tetapi saya merasa sangat sangat bahagia bisa berada seperti kesempatan sekali seumur hidup, ” tuturnya.
Klarinet dan Kinan, kakak adik yang berasal dari Yogyakarta ini sangat antusias mengikuti tradisi budaya mubeng untuk pertama kalinya. Keduanya mengikuti acara ini karena penasaran sekaligus ingin mengeksplore tradisi yang dimiliki DIY sebanyak warga asli Yogyakarta. ” Kami ingin menambah pengalaman khususnya buat anak muda biar tidak lupa sama akar budayanya. Kita juga untuk pertama kalinya ingin merasakan langsung mubeng Beteng sekitar jam 12 malam,” imbuh Klarinet.
Cek berita dan artikel lainnya diĀ GOOGLE NEWS

Leave a Reply