
PADA 14-15 Mei 1998, Kota Solo luluh lantak. Api berkobar membakar sejumlah bangunan di pusat kota, membuat warga pontang-panting. Pintu-pintu masuk kampung dijaga warga dengan senjata seadanya untuk membela diri. Asap hitam membumbung tinggi, seiring masalah yang sedang berkecamuk. Suasana malam hari semakin mencekam, sejalan dengan aksi penjarahan oleh sekelompok orang. Dalam dua hari, masyarakat Kota Solo hidup dalam rasa ketakutan, enggan keluar rumah karena situasi yang tidak memungkinkan.
Sejarawan Kota Solo, Heri Priyatmoko, yang saat itu masih duduk di bangku SMP, mengingat betul peristiwa tersebut. Ia menyaksikan pembakaran dan penjarahan di sekitar Solo Baru, Sukoharjo. Kerusuhan yang terjadi tidak hanya di pusat Kota Solo, tetapi juga di daerah-daerah sekitarnya.
“Saya ketika itu masih sekolah SMP. Saya ingat betul pembakaran dan penjarahan di sekitar Solo Baru. Saya ikut menonton, bahkan lutut terluka akibat lari ditabrak motor saat kondisi sedang chaos,” ujar Heri dikutip dari laman Solopos.com 15/05/2024.
Heri menggambarkan kerusuhan tersebut sebagai sesuatu yang “Kerusuhan yang terjadi menyeramkan dan bersifat lokal. Juga massal, kolektif, muncul secara spontan dan sporadis, endemis, tempo kerusuhan yang singkat, juga mobilitas yang begitu tinggi,” urai dia.
Apa yang membuat warga merasa ketakutan, menurut Heri, adalah karena kerusuhan tersebut cenderung menggunakan aksi kekerasan atau violence, brutal, beringas, vandalistik, dan destruktif atau merusak.
Heri berpendapat bahwa peristiwa Mei 1998 di Solo perlu terus dibeberkan dari waktu ke waktu, agar publik benar-benar mengetahui rangkaian dan sebab-akibat dari konflik yang terjadi. Hal ini penting agar penduduk Solo dan sekitarnya tidak terjebak pada masalah yang sama atau mengulang kejadian memalukan membakar kota sendiri.
“Sepahit dan sejahat apa pun harus diingat agar penduduk Solo dan sekitarnya tidak terjebak pada masalah yang sama, atau mengulang kejadian memalukan membakar kota sendiri,” sambung dia.
Santoso Azi, dalam disertasinya berjudul “Dampak Kerusuhan Mei 1998 Terhadap Perekonomian Masyarakat Etnis Tionghoa Surakarta,” menyebut bahwa kehidupan masyarakat etnis Tionghoa di Solo sudah berkembang sejak masa kolonial Hindia-Belanda.
Namun, mereka mengalami beberapa situasi, mulai dari munculnya kebijakan pemerintah yang diskriminatif hingga adanya peristiwa rasial yang dihadapkan kepada etnis Tionghoa pada tahun 1972, 1980, dan puncaknya terjadi pada tahun 1998.
Kerusuhan Mei 1998 di Solo dilatarbelakangi oleh beberapa tuntutan pemerintahan pusat yang menginginkan lengsernya Soeharto serta keinginan reformasi. Dampaknya, masyarakat etnis Tionghoa yang memiliki usaha mengalami kerugian akibat pembakaran dan penjarahan toko, sehingga banyak tenaga kerja yang diberhentikan.
Peristiwa Mei 1998 di Solo meninggalkan luka yang mendalam bagi masyarakat. Namun, seperti yang dikatakan Heri, mengingat dan melupakan masa lalu yang kelam sama-sama penting.
Masyarakat perlu mengingat masa kelam agar bisa bertahan hidup dan merancang masa depan yang lebih baik. Di sisi lain, masyarakat juga harus bisa melupakan pengalaman pahit agar luka batin yang begitu mendalam bisa tersembuhkan seiring berjalannya waktu.
Baca Juga: Kota Solo Melindungi Perempuan dan Anak dari Kekerasan di Sekolah: Layanan Mudah Akses di UPTD PPA

Leave a Reply