
JoSS, LONDON – Perekonomian global semakin mengalami tekanan yang signifikan dengan merosotnya Jepang dan Inggris ke dalam jurang resesi. Jepang, yang dulunya dikenal sebagai negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia, kini harus menyerahkan posisinya kepada Jerman yang juga berjuang menghadapi tekanan ekonomi yang kuat.
Pada Kamis, 15 Februari 2024, Jepang melaporkan kontraksi ekonomi selama dua kuartal berturut-turut, dengan penurunan sebesar 0,4% secara tahunan pada Kuartal 4 tahun 2023. Angka ini jauh di bawah harapan, terutama setelah pertumbuhan sebesar 3,3% pada Kuartal 3 tahun 2023.
Di sisi lain, Inggris juga terperosok ke dalam resesi, dengan Kantor Statistik Nasional melaporkan pertumbuhan ekonomi hanya sebesar 0,3% pada Kuartal 4 tahun 2023, meneruskan kontraksi sebelumnya sebesar 0,1%.
Dikutip dari Bloomberg, Inggris resmi memasuki resesi ringan pada paruh kedua 2023. Ini berarti Perdana Menteri Rishi Sunak gagal memenuhi janjinya mengenai pertumbuhan ekonomi.
Menurut data dari Kantor Statistik Nasional (Office for National Statistics/ONS) yang dirilis pada Kamis (15/2), Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris turun 0.3% pada kuartal keempat, lebih besar dari perkiraan penurunan 0.1% para ekonom. Angka ini mengikuti penurunan 0.1% pada tiga bulan sebelumnya.
Para ekonom mendefinisikan resesi teknis sebagai penurunan produksi selama dua kuartal berturut-turut. Namun, skala penurunan yang kecil menunjukkan bahwa Inggris lebih tepat disebut mengalami stagnasi daripada resesi besar-besaran. Meski demikian, resesi ini dapat meningkatkan tekanan pada Bank Sentral Inggris (Bank of England/BOE) untuk menurunkan suku bunga dari level tertingginya dalam 16 tahun.
Pound melemah terhadap dolar setelah rilis data. Mata uang ini diperdagangkan 0,1% lebih lemah pada US$1,2548, menuju penurunan untuk hari ketiga.
Dengan kedua kekuatan ekonomi ini berjuang keras, tantangan besar menanti dunia dalam upaya pemulihan ekonomi global. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyoroti bahwa kedua negara ini masuk ke dalam resesi teknis pada kuartal terakhir 2023. Meskipun begitu, perekonomian Indonesia masih cukup solid dan resilien didukung data ekonomi makro yang terus membaik.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengatakan bahwa pelambatan ekonomi yang terjadi di negara-negara maju seperti Jepang dan Inggris utamanya disebabkan oleh tingginya tingkat inflasi dan melemahnya permintaan domestik, sehingga berakibat pada terkontraksinya pertumbuhan di negara tersebut.
Meskipun demikian, Pemerintah Indonesia tetap harus memperhatikan dampak dari pelambatan pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut, terutama dalam hubungan kerja sama yang baik dengan Jepang, seperti investasi dan ekspor-impor.
Dinamika yang terjadi membuat ekonomi global masih rentan oleh berbagai risiko, terutama situasi geopolitik yang semakin tidak menentu. Oleh karena itu, Pemerintah terus bersiap untuk menghadapi risiko ekonomi global guna menjaga perekonomian Indonesia tetap stabil. Salah satu langkahnya adalah dengan meningkatkan kinerja ekspor nasional untuk memperkuat neraca perdagangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi. (lna)

Leave a Reply