Jelang Pemilu, Moh Saleh Minta Sosialisasi Harus Terus Digalakkan Guna Tingkatkan Partisipasi Pemilih

Ketua Komisi A Mohammad Saleh dan sejumlah narasumber dalam acara podcast dengan tema ‘Pemilu Aman & Damai’ di Ruang Rapim, Lantai 1 Gedung Berlian, Jalan Pahlawan Nomor 7 Kota Semarang, Senin (29/1/2024). (foto: dprd.jatengprov.go.id)

JoSS, SEMARANG – Ketua Komisi A DPRD Provinsi Jateng, Moh Saleh, menekankan perlunya peningkatan sosialisasi kepada masyarakat untuk meningkatkan partisipasi pemilih, terutama pemilih pemula yang jumlahnya sangat besar. Terutama pelaksanaan Pemilu 2024 tinggal menghitung hari.

Pernyataan ini disampaikannya dalam sebuah podcast dengan tema ‘Pemilu Aman & Damai’ di Gedung Berlian, Kota Semarang, pada Senin (29/1/2024). Acara tersebut turut dihadiri oleh akademisi dari Undip, Teguh Yuwono, dan Anggota Bawaslu Jateng, Wahyudi Sutrisno.

Saleh menyatakan bahwa pemilih pemula saat ini memiliki pemahaman yang cukup baik terhadap pilpres, yang tercermin dari perbincangan yang ramai di media sosial.

“Kita dapat melihat dari ‘ramainya’ media sosial (medsos) yang selalu menjadi perhatian kaum muda. Hal ini menunjukkan bahwa kaum muda dalam pemilu kali ini lebih concern. Terlepas dari ramainya pilpres, kaum muda mampu memberikan pemikirannya atas Pemilu 2024,” kata Saleh dikutip dari dprd.jatengprov.go.id.

Namun, Saleh juga mengakui bahwa isu pileg masih kalah populer dibandingkan pilpres, terutama di kalangan pemilih pemula.

Kondisi itu dialaminya sendiri saat terjun ke daerah pemilihan (dapil) dimana masyarakat lebih ‘akrab’ dengan persoalan pilpres ketimbang pileg.  Untuk itu dia menekankan pentingnya edukasi politik kepada masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pileg.

“Saya mengalami sendiri saat ke Dapil,  masyarakat lebih suka membicarakan capres ketimbang caleg,: ujarnta.

Meski begitu, lanjutnya cara pandang masyarakat terhadap caleg juga semakin berkembang. Masyarakat lebih meminta caleg datang dan menemui masyarakat ketimbang hanya melihat foto atau gambar calegnya.

“Untuk itu, masyarakat perlu terus mendapatkan edukasi politik menjelang pemilu ini,” kata Saleh.

Dari sisi penyelenggara, Saleh menyoroti pentingnya data pemilih pemula yang harus diperhatikan secara serius, terutama dalam hal pendaftaran dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Hal ini penting untuk menghindari duplikasi data dan memastikan pemilih pemula terdaftar dengan baik.

Teguh Yuwono juga mengamini bahwa pemilih pemula, terutama di lingkungan akademis, semakin peduli terhadap pemilu. Menurutnya, partisipasi aktif kaum muda dapat meningkatkan kualitas pemilu, terutama jika mereka ikut serta dalam pengawasan pemilu, termasuk melalui media sosial.

“Saya melihat, karena saya ada di Fisip (Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Pemerintahan), banyak mahasiswa yang membahas dan membawanya dalam diskusi. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak muda sekarang lebih peduli terhadap pemilu. Dampaknya nanti, partisipasi mereka saat pencoblosan bisa ikut terdongkrak,” kata Teguh.

Sementara itu, Wahyudi Sutrisno juga mengajak kaum muda untuk berperan aktif dalam pemilu, termasuk dalam pengawasan melalui media sosial, yang dianggap dapat meningkatkan integritas pemilu secara keseluruhan.

“Pengawasan pemilu oleh kaum muda itu bisa dilakukan dengan mengawasi medsos. Dengan memperhatikan isu-isu pemilu di medsos, maka kualitas pemilu sendiri semakin terintegritas,” katanya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*