Gempa 7,4 M Filipina, Lebih Dari 100 Ribu Jiwa Masih di Pengungsian

Dalam foto yang dirilis oleh Unit Pemerintah Daerah Hinatuan, penduduk desa tinggal di dalam pusat evakuasi sementara di kota Hinatuan. (foto: Local Government Unit of Hinatuan via AP)

 JoSS, ANKARA – Lebih dari 100 ribu penduduk Filipina yang terdampak gempa bermagnitudo 7,4 masih tinggal di pusat-pusat evakuasi. Hal itu disebabkan rentetan gempa yang masih terus terjadi sehaj gempa pertama yang mengguncang pada Sabtu (2/12/2023) malam.

Dari serangkaian gempa yang melanda Filipina selatan, yang menewaskan sedikitnya tiga orang, menurut media dan pejabat setempat pada Senin (4/12).

Dikutip dari Antara, gempa bumi berkekuatan Magnitudo (M) 7,4 mengguncang wilayah selatan Filipina pada Sabtu (2/12) malam, menewaskan sedikitnya tiga orang dan melukai beberapa lainnya, selain memaksa puluhan ribu orang untuk menyelamatkan diri.

Sementara itu, gempa susulan berkekuatan M 6,8, di kedalaman 1 km, mengguncang wilayah Mindanao pada Senin pagi, menurut badan seimologi Filipina. Lebih dari 108 ribu orang tinggal di 115 pusat evakuasi di wilayah Surigao del Sur, kata radio DZBB.

Sementara itu, di daerah Caraga, khususnya di Surigao del Sur, otoritas penanggulangan bencana regional mengerahkan total sebanyak 30 tim Bantuan Kemanusiaan dan Tanggap Bencana (HADR) untuk membantu unit pemerintah daerah yang terkena dampak gempa kuat tersebut, menurut laporan Kantor Berita Nasional Filipina.

Sebelumnya, otoritas setempat telah mengeluarkan peringatan dini terjadinya tsunami. Namun kemudian dicabut. Gempa dengan magnitudo sekitar 7,5 mengguncang Mindanao di Filipina selatan pada Sabtu malam, yang memicu peringatan tsunami setinggi 1 meter atau lebih di beberapa wilayah dan pantai barat daya Jepang.

Badan Seismologi Filipina, Phivolcs, mengatakan gelombang tsunami bisa mencapai daratan Filipina pada tengah malam waktu setempat (23.00 WIB) dan berlanjut selama beberapa jam.

Sistem Peringatan Tsunami AS mengatakan bahwa gelombang laut bisa mencapai 3 meter di beberapa pantai Filipina.

“Kapal-kapal yang berada di laut selama periode ini harus tetap berada di lepas pantai perairan dalam hingga pemberitahuan lebih lanjut,” jelas Phivolcs.

Penduduk yang tinggal di dekat pantai Provinsi Surigao Del Sur dan Davao Oriental diminta untuk “segera mengungsi” atau “pindah lebih jauh ke pedalaman”.

Stasiun TV Jepang NHK melaporkan gelombang tsunami setinggi 1 meter diperkirakan mencapai pantai barat daya Jepang sekitar 30 menit kemudian atau pada Minggu pagi pukul 1.30 (Sabtu, 23.30 WIB).

Phivolcs mengatakan pihaknya tidak memprediksi kerusakan yang signifikan akibat gempa tersebut, tetapi memperingatkan adanya sejumlah gempa susulan.

Kepala Polisi di kota pesisir Hinatuan, Raymark Gentallan, mengatakan bahwa listrik padam sejak gempa terjadi. Tim tanggap bencana, jelas dia, belum memantau adanya korban atau kerusakan. Kota itu berada dekat pusat gempa.

Gempa kerap terjadi di Filipina yang berada di “Cincin Api”, deretan gunung berapi yang melingkari Samudra Pasifik yang rentan terhadap aktivitas seismik.

Pusat Seismologi Eropa-Mediterania (EMSC) mengatakan gempa dengan magnitudo 7,5 telah terjadi di kedalaman 63 km.

Sementara Survei Geografis AS (USGS) mencatat kekuatan gempa pada magnitudo 7,6 dengan kedalaman 32 km. Badan itu mengatakan gempa tersebut terjadi pada pukul 22.37 malam waktu Filipina (21.37 WIB).
​​​​
Filipina terletak di “Cincin Api”, yaitu serangkaian gunung berapi yang mengelilingi Samudera Pasifik yang rentan terhadap aktivitas seismik.

Bulan lalu, gempa berkekuatan M 6,7 mengguncang Pulau Burias Filipina, menewaskan sedikitnya sembilan orang, mengguncang bangunan dan menyebabkan sebagian langit-langit pusat perbelanjaan runtuh. (lna)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*