
JoSS, JAKARTA – Sejak Mei 2023, China mengalami lonjakan kasus pneumonia, dan sekitar 75% dari kasus tersebut disebabkan oleh infeksi Mycoplasma pneumoniae. Meskipun menjadi salah satu penyebab utama pneumonia di China, Mycoplasma pneumoniae ternyata tidak lebih berbahaya dibandingkan dengan Covid-19.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Imran Pambudi menyatakan bahwa Mycoplasma pneumoniae adalah bakteri, bukan virus, dan merupakan penyebab umum infeksi pernapasan sebelum masa pandemi Covid-19.
Imran menjelaskan Mycoplasma pneumoniae merupakan bakteri dari genus Mycoplasma dengan inkubasi yang cukup lama, berkisar 1-4 minggu. Bakteri ini kerap dijuluki ‘walking pneumonia’ karena gejalanya yang ringan.
“Kasus Mycoplasma pneumoniae paling banyak dialami oleh anak-anak, terutama pada perubahan musim. Anak-anak lebih rentan karena saluran napas mereka pendek, memudahkan bakteri tersebut masuk ke dalam jaringan paru-paru,” jelasnya.
Meskipun ada potensi menjadi pandemi baru, lanjut Imran kemungkinannya sulit terjadi karena masa inkubasi yang panjang, tidak secepat penyebaran virus. Pandemi lebih sering disebabkan oleh patogen dengan sifat virulensinya tinggi.
“Mortalitas lebih rendah dari Covid-19, meski demikian, Mycoplasma pneumoniae memiliki tingkat kesakitannya yang tinggi (morbiditas), angka kematiannya (mortalitas) tidak se tinggi Covid-19,” tutur Imran, seperti dikutip dari CNNIndonesia.
Lebih lanjut dia menjelaskan sebagai bakteri, Mycoplasma pneumoniae memerlukan pengobatan dengan antibiotik, berbeda dengan infeksi virus yang cenderung sembuh sendiri.
Dia menekankan yang perlu diwaspadai adalah Pneumonia akibat Mycoplasma berkaitan dengan tingkat polusi udara. Daerah dengan polusi tinggi dapat meningkatkan sensitivitas paru-paru, memicu masalah pernapasan lain seperti asma.
Meskipun Mycoplasma pneumoniae menjadi perhatian di China, mayoritas kasus pneumonia di Indonesia tidak disebabkan oleh Mycoplasma pneumoniae. Surveilans di Indonesia menunjukkan deteksi virus influenza sebagai penyebab utama kasus pneumonia.
Imran Pambudi menegaskan bahwa Mycoplasma pneumoniae, meskipun menjadi penyebab peningkatan kasus pneumonia di China, tidak lebih berbahaya daripada Covid-19. Kemenkes Indonesia juga telah mengeluarkan Surat Edaran terkait kewaspadaan terhadap kejadian Mycoplasma Pneumonia di Indonesia, sebagai upaya pencegahan dan pengendalian. (lna)

Leave a Reply