Enting-Enting Gepuk, Camilan Khas Salatiga Saksi Sejarah Peradaban Abad 19

Enting-enting Gepuk khas Salatiga merk "Klenteng dan 2 Holo" (Foto: Akun Instagram Fasahat Salatiga)

MAKANAN ringan khas Salatiga, Jawa Tengah, yang bernama Enting-Enting Gepuk ternyata telah ada sejak abad 19. Makanan kering yang terbuat dari kacang tanah dan gula ini bukan hanya sekadar camilan, melainkan juga menyimpan sejarah panjang keberadaan orang Tionghoa di Kota Salatiga.

Menurut Hartono (54), penerus produksi Enting-Enting Gepuk pertama di Salatiga, sejarah kuliner ini dimulai sekitar tahun 1929 oleh Khoe Tjong Hok, seorang pendatang dari Tiongkok yang menjadi juru kunci Klenteng Hok Tiek Bio Salatiga.

Pada awalnya, makanan ringan ini terbuat dari kacang tanah asin dan kacang kering, dijual kepada pengunjung yang mengantri untuk bersembahyang di klenteng Hok Tiek Bio Salatiga.

“Kalau di Tiongkok, makanan ini sebutannya bukan enting-enting gepuk, tetapi kue kacang, biasanya dijual dipinggiran Tembok Cina begitu. Bentuknya juga berbeda dengan enting-enting dan enting-enting gepuk ini menggunakan tambahan gula yang diolah menjadi karamel, rasanya juga berbeda. Kami menggunakan kacang lokal juga,” ungkap Hartono (54) pada wawancara tim National Geographic Indonesia, dikutip JoSS.co.id.

Seiring berjalannya waktu, Khoe Tjong Hok menambahkan gula untuk menciptakan rasa manis pada Enting-Enting Gepuk, serta memberi isian kacang tanah yang telah digepuk. Makanan ringan ini menjadi tanda keberadaan orang Tionghoa di Salatiga pada masa itu.

Salah satu rumah produksi Enting-Enting Gepuk pertama di Salatiga, mengungkapkan bagaimana Khoe Tjong Hok awalnya mengemas makanan ini dengan daun bambu, dibentuk segitiga, dan dijual dalam keranjang karena harga pembungkus makanan masih mahal pada waktu itu.

Dalam perkembangannya, Khoe Tjong Hok meminta bantuan anak-anaknya untuk membantu produksi dan penjualan Enting-Enting Gepuk. Kualitas dan isi makanan ringan ini pun ditingkatkan. Setelah wafat, produksi Enting-Enting Gepuk dilanjutkan oleh anak-anaknya, terutama oleh Hartono dan Khoe Lio Lien.

Enting-Enting Gepuk dengan merk “Klenteng dan 2 Holo” menggambarkan simbol klenteng Hok Tiek Bio tempat keluarga mereka menjaga klenteng dan menjualkan makanan ringan. Simbol 2 Holo mencerminkan nama putra pertama Khoe Tjong Hok, dilanjutkan dengan kedua putri dan kedua putranya.

“Enting-Enting Gepuk Cap Klenteng dan 2 Holo” inilah yang merupakan merk dari keturunan Khoe Tan Nio.

Meskipun seiring waktu produksi Enting-Enting Gepuk melibatkan pihak lain, makanan ringan ini tetap menjadi ikon kota Salatiga dan memiliki banyak peminat. Selain cita rasanya yang unik, Enting-Enting Gepuk juga menjadi oleh-oleh yang mudah diakses oleh keluarga luar kota. Sebuah warisan kuliner yang terus berkembang, memperkaya kisah sejarah dan kenikmatan kuliner Kota Salatiga. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*