JoSS, NEW DELHI – Regulator obat India telah menemukan bahwa sirup obat batuk dan anti-alergi buatan Norris Medicines mengandung zat beracun, menyusul laporan terkait kematian 141 anak di seluruh dunia yang disebabkan oleh sirup obat batuk buatan India.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa kedua produk buatan Norris mengandung dietilen glikol (DEG) atau etilen glikol (EG), dua zat berbahaya yang juga ditemukan dalam sirup obat batuk yang memicu kematian di beberapa negara, termasuk Gambia, Uzbekistan, dan Kamerun.
Regulator obat India, Central Drugs Standard Control Organization (CDSCO), mencatat temuan ini dalam laporan bulanannya, menyoroti masalah kontaminasi DEG dan EG dalam industri obat domestik senilai 42 miliar dolar AS.
HG Koshia, komisaris Badan Pengendalian Obat dan Makanan Negara Bagian Gujarat, menyatakan bahwa pihaknya telah menginspeksi pabrik Norris dan memerintahkan penghentian produksi serta penarikan kedua obat tersebut dari peredaran.
Koshia mengkritik perusahaan Norris karena tidak mematuhi syarat-syarat produksi yang baik, dan menyebut pabrik tersebut tidak memiliki sistem pengaliran air dan udara yang memadai.
Baca Juga: Malaysia Kembali Keluhkan Kebakaran Hutan di Indonesia yang Memperburuk Polusi Udara
“Perusahaan itu secara memprihatinkan gagal mematuhi syarat-syarat produksi yang baik,” kata Koshia. Dia menambahkan bahwa pabrik itu tidak memiliki sistem pengaliran air dan udara yang baik.
“Demi kepentingan kesehatan publik yang lebih besar, kami perintahkan pabrik tersebut untuk menghentikan produksinya,” kata dia, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (4/10/2023).
Sementara itu, Direktur Utama Norris, Vimal Shah, enggan memberikan komentar di luar jam kerja.
Hasil uji laboratorium CDSCO menunjukkan bahwa sirup obat batuk Trimax Expectorant mengandung 0,118 persen EG, sementara sirup anti-alergi Sylpro Plus Syrup mengandung 0,171 persen EG dan 0,243 persen DEG. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), batas aman yang diterima secara internasional adalah tidak melebihi 0,10 persen.
Belum jelas apakah kedua produk Norris telah ditarik dari peredaran atau menyebabkan gangguan kesehatan. Keduanya masih terdaftar di apotek daring.
CDSCO juga menemukan tiga lot sirup COLD OUT buatan Fourrts Laboratories yang mengandung DEG dan EG. WHO sebelumnya mengingatkan bahwa satu lot COLD OUT yang dijual di Irak melebihi batas aman.
Meskipun Ketua Fourrts, SV Veeramani, sebelumnya menyatakan bahwa produk tersebut tidak mengandung kontaminasi atau racun, produk tersebut secara sukarela ditarik dari Irak sebagai tindakan pencegahan.
Sementara itu, Pemerintah India melalui pharmexcil sedang menggelar lokakarya bagi produsen obat dalam negeri untuk menekankan pentingnya kualitas obat dan keselamatan pasien.
Industri farmasi India dihadapkan pada masalah produsen yang mengganti bahan baku dengan yang lebih murah untuk membuat sirup obat batuk, menurut beberapa pelaku industri farmasi dan regulator di negara tersebut. (lna)

Leave a Reply