Mahasiswa UGM Teliti Pergeseran Pengetahuan Etnobotani Suku Rejang untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan

Suku Rejang
Mahasiswa UGM teliti pergeseran pengetahuan Etnobotani Suku Rejang untuk mewujudkan ketahanan pangan. (foto: ugm.ac.id)

JoSS, JOGJA – Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) telah melakukan penelitian mendalam mengenai pengetahuan etnobotani yang ada di kalangan Suku Rejang. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pergeseran pengetahuan, pewarisan, dan strategi konservasi dalam konteks ketahanan pangan.

Hasil penelitian ini memiliki potensi besar untuk mengembangkan sumber daya pangan alternatif di Indonesia.

Indonesia memiliki keragaman tanaman pangan yang melimpah, namun, belum dimanfaatkan secara optimal. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat tanpa peningkatan produktivitas pangan telah menciptakan ketergantungan pada impor beras. Padahal, ada banyak jenis bahan pangan alternatif yang bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan ini.

Etnobotani, praktik pemanfaatan keanekaragaman hayati berdasarkan kelompok etnis, memiliki potensi besar dalam mewujudkan ketahanan pangan. Namun, pengetahuan etnobotani sedang mengalami pergeseran dan kepunahan. Suku Rejang di Indonesia memiliki pengetahuan etnobotani yang kaya dan masih dapat dipelajari.

Baca Juga: Mahasiswa Sekolah Vokasi UGM Sukses Mengembangkan Alat Pemberi Pakan Ternak Ayam Otomatis “Simar” untuk Meningkatkan Efisiensi Peternakan

Tim penelitian mahasiswa UGM menggunakan pendekatan interdisipliner, termasuk perhitungan indeks pengetahuan etnobotani untuk mengukur pergeseran pengetahuan antargenerasi. Mereka juga melakukan etnografi dan studi sejarah untuk melihat pola pewarisan pengetahuan.

“Kita menggunakan pendekatan interdisipliner meliputi penghitungan indeks pengetahuan etnobotani untuk menghitung pergeseran pengetahuan antargenerasi, dan etnografi dan sejarah untuk melihat pola pewarisan pengetahuan,” kata Abdilla, salah satu anggota tim PKM UGM dalam keterangannya kepada wartawan, Kamis (5/10/2023), seperti dikutip dari ugm.ac.id.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan etnobotani paling banyak dimiliki oleh kelompok usia di atas 45 tahun, dengan persentase tertinggi pada kelompok usia 60 tahun ke atas. Namun, kelompok usia 15-30 tahun memiliki pengetahuan etnobotani yang lebih rendah.

Pewarisan pengetahuan etnobotani dalam Suku Rejang dilakukan melalui tradisi lisan, aktivitas sehari-hari, dan bahkan secara non-formal. Namun, masih terdapat kelemahan dalam proses pewarisan pengetahuan ini karena absennya lembaga lokal yang mendukungnya.

Hanieke Syahla Magular, salah satu anggota tim penelitian, merekomendasikan perlunya kemitraan baru antara pegiat konservasi, akademisi, aktor pemerintah, dan masyarakat lokal.

“Kemitraan ini harus berfokus pada pemberdayaan masyarakat lokal dalam upaya konservasi dan pewarisan pengetahuan etnobotani. Dengan demikian, diharapkan dapat tercipta keadilan kultural bagi pelaku konservasi dan pewarisan pengetahuan etnobotani suku Rejang, serta memberikan kontribusi dalam mewujudkan ketahanan pangan yang berkelanjutan,” pungkasnya. (lna)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*