JoSS, TEGAL – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah merilis hasil investigasi terkait kecelakaan bus pariwisata yang terjadi di Kawasan Wisata Guci, Bojong, Kabupaten Tegal, pada Minggu, 7 Mei 2023. Kecelakaan ini menyebabkan dua orang meninggal dunia, dua luka berat, dan 31 luka ringan.
Hasil investigasi tersebut diumumkan dalam sebuah acara media yang digelar di Aula Puspita, Kampus Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan, Kota Tegal, pada Rabu (4/10/2023). Acara tersebut dihadiri oleh Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono, Senior Investigator KNKT Ahmad Wildan, Direktur Kampus Politeknik Keselamatan Transportasi Jalan I Made Swastika, serta berbagai pihak terkait, termasuk regulator, operator, dan media massa.
Soerjanto Tjahjono menjelaskan kronologi kecelakaan yang terjadi pada hari Minggu, 6 Mei 2022, saat sebuah bus pariwisata dengan nomor polisi B 7260 CGA membawa rombongan wisata religi dari Tangerang Selatan. Rute perjalanan mereka meliputi Tangerang Selatan, Cirebon, Pemalang, Guci Tegal, Pekalongan, dan kembali ke Tangerang Selatan. Bus tersebut tiba di Guci Tegal pada pukul 21.00 WIB dan parkir di area yang ditunjukkan.
Pada pagi hari tanggal 7 Mei 2023, sekitar pukul 07.30 WIB, pengemudi terbangun karena penumpang mulai naik ke dalam bus. Pembantu pengemudi menyalakan mesin dan AC, sementara penumpang memasukkan barang bawaan mereka ke bagasi. Sebanyak 35 orang naik ke dalam bus.
Baca Juga: Kecelakaan Beruntun Mengerikan: Truk Alami Rem Blong di Exit Tol Bawen, 3 Tewas, 9 Luka-luka
Ketika pengemudi sedang berkoordinasi di luar bus, tiba-tiba bus mulai bergerak dan meluncur ke arah jalan menurun. Meskipun upaya keras dilakukan oleh pembantu pengemudi untuk menghentikan bus, kendaraan terus bergerak hingga menabrak lereng sebelah kanan dan melambat. Namun, bus akhirnya meluncur ke tepi jurang di sebelah kiri, menabrak sebuah warung, terguling sebanyak 3 kali, dan jatuh ke jurang Sungai Guci.
Warga sekitar mendekati lokasi kejadian setelah mendengar teriakan minta tolong dari dalam bus. Evakuasi korban dilakukan, dan mereka dibawa ke puskesmas dan RSUD Soeselo Slawi.
“Hasil investigasi menunjukkan bahwa bus dalam kondisi layak, termasuk rem parkir yang dinyatakan dalam kondisi baik. Namun, faktor utama kecelakaan adalah kondisi tanah yang labil, ganjal roda yang ambles, dan posisi parkir yang menurun, yang mengubah kondisi rem parkir dari statis menjadi dinamis,” jelas Soerjanto Tjahjono, dikutip dari tegalkota.go.id.
Dalam penjelasan Senior Investigator KNKT Ahmad Wildan, disebutkan bahwa faktor-faktor yang berkontribusi pada kecelakaan ini adalah parkir di tempat dengan posisi kemiringan kritis dan tanah yang tidak stabil, hanya mengandalkan sistem rem parkir, serta penambahan beban di atas bus sekitar 2,8 ton. Selain itu, prosedur parkir yang tidak diikuti dengan benar juga berperan.
Wildan menyarankan agar hindari parkir di kondisi jalan menurun atau menanjak, dan jika tidak memungkinkan, pengemudi harus mengikuti prosedur darurat dengan mencari tanah yang keras, mengaktifkan rem parkir, memasukkan gigi mundur, dan memasang ganjal roda minimal di roda yang bebas. Selain itu, mesin tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan hidup saat kendaraan berada di lereng.
Hasil investigasi ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh pengemudi dan operator bus pariwisata untuk selalu mematuhi prosedur keselamatan dalam parkir dan menjaga keamanan penumpang. (lna)

Leave a Reply