
JoSS, LIBREVILLE – Pemimpin kudeta yang berhasil menggulingkan Presiden Gabon Ali Bongo akhirnya dilantik sebagai presiden sementara pada Senin (4/9/2023), disambut sorak sorai oleh pendukungnya.
Upacara pelantikan tersebut disiarkan melalui televisi dengan maksud untuk memperlihatkan militer sebagai penyelamat dari penindasan. Ini adalah kudeta kedelapan yang terjadi di Afrika Barat dan Tengah dalam tiga tahun terakhir.
Dikutip dari Reuters, kudeta ini dipimpin oleh Jenderal Brice Oligui Nguema, yang merebut kekuasaan pada 30 Agustus setelah membatalkan hasil pemilu yang menyatakan kemenangan Ali Bongo dan menyebutnya tidak kredibel.
Nguema mendapat sambutan meriah dari para perwira militer dan pejabat saat tiba di upacara pelantikan, dan kembali mendapat tepuk tangan setelah dilantik oleh panel hakim Mahkamah Konstitusi.
Televisi pemerintah menampilkan gambar kerumunan yang bersorak sorai, sementara kendaraan lapis baja menembakkan salvo ke laut untuk merayakan momen ini.
Baca Juga: Setelah 80 Tahun, Korban Kejahatan Nazi di Italia Mendapat Kompensasi Ratusan Miliar
Dalam pidatonya, Nguema mengusulkan reformasi, termasuk penyusunan konstitusi baru melalui referendum, perubahan undang-undang pemilu dan pidana, serta langkah-langkah untuk mendukung bank dan perusahaan lokal dalam pembangunan ekonomi. Dia juga berjanji untuk mengembalikan orang-orang yang diasingkan secara politik dan membebaskan tahanan politik.
Nguema menggambarkan kudeta ini sebagai momen pembebasan nasional dan pelaksanaan kehendak Tuhan, sambil menyebut bahwa tentara telah mengembalikan martabat rakyat ketika pemimpin mereka mengecewakan mereka.
Sejumlah pejabat dari pemerintahan Ali Bongo, termasuk wakil presiden dan perdana menteri, turut hadir dalam upacara tersebut. Sementara Ali Bongo masih berada dalam tahanan rumah. Dia terpilih sebagai presiden pada tahun 2009, menggantikan ayahnya yang telah berkuasa selama 56 tahun.
Nguema menegaskan komitmennya untuk menyelenggarakan pemilu yang bebas dan adil, meskipun tanpa memberikan jadwal pasti. “Setelah masa transisi ini, kami berencana untuk mengembalikan kekuasaan kepada sipil dengan mengadakan pemilu baru yang bebas, transparan, kredibel, dan damai,” ujarnya.
Sebelumnya, Nguema menyatakan bahwa junta akan bertindak cepat tapi pasti, sambil memperingatkan bahwa terlalu tergesa-gesa dapat mengakibatkan pemilu yang kurang kredibel.
Meskipun mendapat dukungan dari sebagian warga yang bersorak di jalan-jalan Libreville, kudeta ini menuai kecaman dari komunitas internasional. Para pemimpin negara Afrika Tengah yang tergabung dalam ECCAS bertemu pada hari Senin untuk membahas respons mereka terhadap situasi ini. Pekan sebelumnya, mereka telah meminta dukungan dari PBB dan Uni Afrika untuk mendukung pemulihan tatanan konstitusional dengan cepat.
Kelompok oposisi utama Gabon, Alternance 2023, yang menyatakan diri sebagai pemenang sah pemilu pada 26 Agustus, telah mengajukan permintaan kepada komunitas internasional untuk mendorong junta agar menyerahkan kekuasaan kepada pemerintah sipil. Anggota Alternance 2023 telah melakukan pertemuan dengan Nguema pada hari Minggu untuk membahas situasi ini.
Meskipun obligasi internasional Gabon sempat menguat setelah penurunan drastis, tetap terjadi penurunan pada beberapa obligasi. Situasi politik di Gabon tetap menjadi sorotan dunia. (lna)

Leave a Reply