JoSS, SEMARANG – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jawa Tengah (Jateng) mengumumkan bahwa 30 daerah di Jateng saat ini menghadapi situasi kekeringan yang serius. Hal ini terjadi akibat kurangnya hujan selama 60 hari berturut-turut di wilayah tersebut.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jateng, Sukasno, menjelaskan bahwa selama 60 hari terakhir, sejumlah daerah di Jateng hampir tidak menerima curah hujan. Bahkan jika ada hujan, curah hujan yang turun sangat minim, yaitu di bawah 50 mm.
Daerah-daerah yang berstatus “awas” kekeringan termasuk Kabupaten Wonogiri, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Boyolali, Sragen, Semarang, Salatiga, Grobogan, Pati, dan Rembang. Selain itu, daerah seperti Brebes, Kudus, Demak, sebagian wilayah Cilacap, Tegal, Batang, Kendal, Jepara, Blora, dan sebagian kecil Banyumas, Pemalang, Pekalongan, Banjarnegara, Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Temanggung, Magelang, dan Kota Semarang juga menghadapi kekeringan.
Baca Juga: Krisis Air Bersih Terus Meluas di Kota Semarang Akibat Musim Kemarau Panjang
Sukasno melanjutkan dengan menjelaskan bahwa meskipun secara rata-rata daerah tersebut berstatus “awas,” beberapa wilayah di Jateng masih berada dalam status “siaga” dan “waspada.” BMKG memprediksi bahwa puncak kekeringan akan terjadi pada bulan September hingga Oktober 2023 ini.
“Sebagian wilayah Jawa Tengah berstatus ‘siaga’ ditandai dengan warna oranye di peta, sementara yang ‘waspada’ ditandai dengan warna hijau. Puncak kemarau diperkirakan terjadi pada bulan September hingga Oktober. Musim hujan diharapkan akan kembali pada bulan November, meskipun beberapa wilayah mungkin akan menerima hujan pada bulan Oktober atau Desember,” jelasnya.
Sebelumnya, BMKG telah memperkirakan bahwa seluruh wilayah di Jawa Tengah (Jateng) akan mencapai titik puncak kemarau pada bulan Oktober mendatang. Puncak kemarau tahun 2023 ini akan terjadi bersamaan dengan peningkatan radiasi matahari yang mencapai tingkat maksimal.
Pada periode kemarau tersebut, suhu maksimum di sejumlah wilayah Jateng diprediksi akan berkisar antara 39-40 derajat Celsius. Para petugas di lapangan saat ini tengah memantau pergerakan matahari yang akan mencapai puncaknya tepat di atas langit Pulau Jawa saat memasuki periode puncak kemarau. (lna)

Leave a Reply